Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

26 November 2020

Sampah

Negeri ini seru sekali. Mau buang sampah saja harus mikir agak lama. Timbang lempar doang. Sudahlah bertahun-tahun di sekolah harus menghadapi ujian sampai puluhan bahkan ratusan mata pelajaran. Di ruang publik pun harus memecahkan soal yang sebenarnya perkara sepele saja.

Jadi, begini. Saya menjumpai tempat sampah yang memiliki tiga ruang terpisah:

Organik | Daur Guna | Daur Ulang

Sampah organik mudah dipahami. Tetapi bagaimana dengan daur guna dan daur ulang?

Saya bukannya tidak mendukung diversifikasi sampah. Atau segregasi? Apapun itu. Saya setuju seratus persen sampah mesti dipilah sejak ia dihasilkan. Tapi kan orang yang lemah literasi seperti saya bisa kesulitan jika harus menghadapi persyaratan semacam ini.

Kenapa tidak mencontoh toilet umum, misalnya. Mereka membuat pemisahan dengan lugas melalui bentuknya. Bahwa urinoar khusus untuk orang kencing dan kloset bisa digunakan untuk kencing sekaligus berak. Kan tidak mungkin orang salah alamat: buang air besar di urinoar.

Maka berterimakasihlah pada product designer yang menjadikan itu mudah dimengerti. Sebab atas ide mereka kita tidak perlu menahan kencing terlalu lama akibat berpikir akan membuang air seni ke lubang yang mana.

Saya jadi paham kenapa ada pekerjaan yang bernama ux writer. Selain supaya para anak tidak perlu repot mengajari orang tuanya cara membuat akun facebook. Kalau toh para orang tua masih saja meminta bantuan anaknya, saya pastikan itu bukan karena ux writer tidak melakukan pekerjaannya dengan baik.

Seumpama pabrik tempat sampah tadi membutuhkan jasa semacam ux writer, mereka bisa menyewa saya. Setidaknya istilah Daur Guna x Daur Ulang diganti menjadi lebih sederhana. Misalnya Plastik x Non Plastik. Atau Botol x Non Botol. Atau Kemasan Utuh x Non Utuh.

Masih banyak lagi pilihannya. Saya bisa membuatkan itu seratus biji kalau harganya cocok.

13 Agustus 2013

Dendam

Ramadan sesungguhnya adalah bulan kenaikan harga. Dan bagi sebagian orang, merupakan bulan kenaikan berat badan.

Kita telah melewati Ramadan. Sudah menang. Kenapa menang? Oh iya ya. Kenapa? Fitri artinya suci, bukan menang. Siapa bilang Idul Fitri artinya Hari Kemenangan? Wah ini. Biar para ahli bahasa yang kaji.

Kembali lagi soal bulan kenaikan; harga dan tentu saja berat badan tadi. Entah kenapa matematika saya jadi kacau. Lantaran kenaikan harga berbanding lurus dengan kenaikan berat badan. Umumnya kenaikan harga bikin orang berhemat. Dengan kata lain belanja dikurangi. Artinya asupan gizi juga turun. Kalau dulu minum susu 3 gelas perhari, kali ini Cuma 1 gelas saja. Tapi ini kok...?

Coba kita lihat dengan kacamata ekonomi. Pakai hukum supply & demand. [1] Semakin tinggi penawaran, semakin rendah harganya. Berarti semakin banyak barang, harga semakin murah. [2] Tapi semakin tinggi permintaan, semakin tinggi harganya. Berarti semakin banyak yang mau beli, harganya semakin tinggi.

Nah ketahuan.

Harga-harga meninggi karena makin banyak yang mau beli. Karena permintaan naik. But why? Kenapa permintaan naik? Bukannya di bulan Ramadan kita dianjurkan mengurangi porsi hari-hari biasa? Kalau hari-hari biasa makan 3 kali sehari, di bulan Ramadan cukup 2 kali sehari pas sahur dan buka. Tapi yang terjadi...?

Ternyata, kita memang mengurangi porsi dari 3 menjadi 2. Tetapi bobotnya sama. Awalnya 3 porsi sama dengan 3 piring, saat Ramadan 2 porsi sama dengan 3 piring juga. Dirapel waktu berbuka. Bahkan lebih dari 3. Ini namanya balas dendam.

Dendam memang tidak baik. Buktinya berat badan jadi naik. Tentu saja kenaikan ini tidak sehat. Karena lemak menumpuk akibat makanan masuk tapi menganggur. Hayo ngaku siapa yang selesai santap sahur/buka langsung tidur? Mestinya dibakar, bukan disimpan di lipatan perut.

Jadi ingat postingan saya tahun lalu tentang lebaran (baca), terminalnya kolesterol tahunan. Dan beberapa waktu lalu ada twit:

@jo_defretes: The constant battle (is) always between human and cholesterol, not devil :))

Tapi kolesterol ini cuma senjata yang digunakan setan saja. Musuh utama manusia tetap setan itu sendiri. Persis seperti apa yang terjadi pada Adam & Hawa. Setan menyodori buah khuldi sebagai senjata. Dimakan, lalu manusia diusir dari surga.

Pokoknya senjata setan akan menjauhkan kita dari surga. Dendam termasuk di antaranya. Naudzubillah min dzalik.

11 Agustus 2013

Seimbang

Menyambung postingan sebelumnya; Logika Matematika, sesuai janji saya.

Yah, setelah menunda dan menunda. Karena memang tidak enak sekali saat kita ditarget untuk menyelesaikan sebuah tulisan. Sekarang saya tahu rasanya dikejar-kejar deadline. Deadline yang saya ciptakan sendiri. Yang tidak "line" sebenarnya. Karena saya tidak menentukan tanggal. Hanya saja saya terlanjur membuat pagar, "Saya janji akan saya sambung lagi di postingan berikutnya.". Walhasil, uneg-uneg lain yang ingin ikut nangkring jadi terpending. Daripada jadi bottle neck, lebih baik segera diselesaikan. So, here is it....

Matematika tidak bisa berdiri sendiri. Logikapun begitu. Sama kasusnya dengan Intelligence (Quotient) yang harus bekerja bersama Emotional dan Spiritual. Saya banyak mengenal ini lewat ESQ Way yang dipopulerkan Ary Ginanjar. Meski akhirnya metode yang digunakan menjadi perdebatan banyak pihak (bahkan MUI-nya Malaysia sampai menyatakan sesat), tetapi harus diakui ESQ Way membuka mata kita bahwa ada yang tak kalah penting di samping kecerdasan intelektual.

Jika tubuh kita ibarat perangkat komputer, maka kita butuh Operating System (OS) untuk menjalankan. OS inilah yang kemudian akan banyak mengambil peran. Mau disuntik hardware baru atau diinstal software tambahan, tidak jadi soal. Yang penting OS-nya settled.

Dari sisi intelligence harus kokoh. Supaya tidak keblinger juga diperkuat dengan emotional. Dan untuk mengendalikan dibutuhkan pula spiritual. Atau ditambahkan yang lain. Tergantung OS-nya. Windows, Linux, Macintosh, atau apa saja.

Operating System beserta softwarenya bisa diupgrade. Bahkan sekarang hardwarepun diperjualbelikan. Lihat saja di Korea. Di sana tidak ada hidung pesek. Semuanya mancung. Semua cantik. Untuk hardware ini yang penting wani piro?

Karena OS bisa diupgrade itulah semua orang berkesempatan mendapatkan apa yang diinginkan. Seperti Erbe Sentanu tulis dalam Quantum Ikhlas, "Default factory setting (baca: fitrah) semua manusia adalah untuk berhasil, Tuhan menciptakan manusia bukan untuk mengalami kegagalan, kegagalan itu bukanlah nasib, melainkan serangkaian keputusan yang kurang tepat, dan selalu bisa di-reset, diputar kembali ke arah keberhasilan". Nah, panjang lebar!

Singkatnya, manusia butuh keseimbangan untuk mencetak file sesuai desain yang dibuat sebelumnya. Sesuai keinginannya. Baik itu cita-cita, visi, impian, dan sebagainya.

Pada dasarnya kehidupan inipun diciptakan dengan hitung-hitungan yang sungguh seimbang. Di hutan Sumatera ada 1000 harimau, 10.000 rusa, 100.000 hektar padang rumput. Misalnya. Tetapi tangan kita, manusia, lah yang merusak segala keseimbangan kehidupan.

Di Jakarta sudah tidak terhitung lagi banyaknya asap buangan knalpot dari ribuan kendaraan yang berkeliaran di sana. Kita penuhi kota dengan kuda besi tanpa memperhitungkan kapasitas jalanan, mengabaikan pohon yang harus bekerja keras membersihkan udara, melupakan lahan parkir yang ada, lupa cadangan bahan bakar, dan seterusnya-dan seterusnya. Cilaka!

Ya, itu memang di Jakarta. Tapi belum tentu di daerah lain kondisinya lebih baik. Lagipula Jakarta ibukota Negara. Jadi, Jakarta merupakan muka Indonesia. Wajah dianggap cukup buat merepresentasikan tubuh secara keseluruhan. Meskipun Bali lebih dikenal ketimbang Jakarta, sih.
Ah, akan sangat panjang sekali jika kita menguraikan betapa berengseknya negeri kita tercinta. Belum lagi di pedalaman Kalimantan yang tertinggal, sungguh timpang. Entah dari mana kita harus mulai membenahi keseimbangan negeri ini.

Ketimpangan ini bukan Cuma persoalan Indonesia yang kebetulan banyak boroknya. Tetapi juga semua yang menghuni bumi. Kabarnya, di India, sudah kerepotan menangani kotoran manusia, tinja. Tidak lama lagi kelangkaan air bersih atau bahkan udara mungkin saja menghantui. Ngeri!

Saya bukannya mengimani film-film Hollywood. Tetapi akan sangat mengerikan jika masa depan bumi seperti yang tergambar dalam film Wall-E. Apakah kita siap menghadapi zaman di mana bumi tak lagi memiliki daratan seperti di film Waterworld? Bagaimana dengan The Day After Tomorrow? Atau seperti film Earth 2100 tentang kehancuran bumi akibat tangan manusia? Ah, saat tiba hari itu aku pasti sudah mati. Kiamat.

15 Maret 2013

Twitwar

Saya tidak akan mendefinisikan apa itu Twitwar. Di tempat lain sudah banyak yang membicarakan. Tapi boleh lah buat sedikit gambaran. Twitwar berasal dari dua kata; twit dan war. Perang twit.

Berkeliaran di timeline, kita perlu ekstra waspada. Dia bagian dari WWW yang digandrungi manusia di abad 21. Pisau bermata dua yang sama tajamnya. World Wild Web. Iya, wild.  Rimba lini masa. Namanya juga rimba, singa atau macan tidak berkandang. Berani masuk harus berani dicakar. Tidak mau dicakar, jangan masuk. Karena balas mencakar saja dihalalkan. Kecuali kalau eman dengan kuku yang mendapat perawatan manicure-pedicure tiap minggu itu.

Kita akan banyak menjumpai burung yang berkicau. Burung-burung yang bernyanyi. Melagukan ode kesedihan. Dan tidak cuma sekali/dua kali burung-burung itu saling memaki, bersumpah serapah. Sudah merdeka, katanya. Tapi jangan salah, mereka bukan burung beo yang dilatih berminggu-minggu untuk memenangkan festival. Mereka tidak dikarantina dan diberi makan pelet impor. Tidak peduli sedang nge-trend barang impor murah. Burung-burung itu makan apa saja. Mereka omnivora. Kalau sudah tidak ada lagi yang bisa dikunyah, mereka biasa mengganyang sesamanya. Sah. Yang penting kenyang.    

"Siapa suruh media nayangin berita Sumanto? Hayo!” kata burung yang nangkring di pohon bambu. Mereka berguru pada apa yang bisa ditiru. Asal terlihat berarti boleh diduplikat.  

Ada fenomena unik di rimba linimasa. Twitwar tanpa mention. Masing-masing cuma akan saling nyinyir pamer kebolehan berkicau sampai mulut berbusa. Kadang-kadang sampai berisik sekali. Senggol sana senggol sini. Mungkin kebanyakan nonton konser dangdut. Makin disenggol makin asik. Atau bekas anak metal, ditabuhi sedikit maunya moshpit.  

Di medan Twitwar, para burung dibekali ketapel. Untuk menembaki sesama burung itu sendiri. Tapi dengan konsep tanpa mention, jadilah perang twit itu membabi buta. Bayangkan saja sebuah arena adu jotos yang di dalamnya berisi algojo-algojo, yang tanpa ada penerangan sama sekali. Mike Tyson merasa dijotos Holyfield dari kiri, dia balas pukul ke kiri disangka tepat kena Holyfield ternyata kena Chris John. Chris John tidak mau kalah, diayunkannya pukulan ke kanan membalas Mike Tyson, rasanya tepat sasaran ternyata bersarang di muka Ronaldinho. Lho, rimba linimasa memang begitu. Dari pesepakbola sampai petinju jadi satu. Sudah tidak bisa dibedakan lagi mana yang alumni RSJ mana yang alumni ITB. Semua saling tembak dan tetap dengan saling buta. Saling merasa.

Rimba linimasa ini mengerikan. Lengah sedikit saja jadi bulan-bulanan. Keluar dari sana kita merasa saling bonyok. Tapi itu menyenangkan. Buktinya ketagihan. Sudah tahu bakal babak belur tapi masuk lagi. Tapi, meski bikin ketagihan untungnya tidak menyebabkan kanker, impotensi, gangguan kehamilan, jantung, dan kematian.

Lain kali supaya lebih terarah, kalau Twitwar mesti bawa obor.

19 Agustus 2012

Kolesterol

Hari ini, 19 Agustus 2012, untuk pertama kalinya melewati lebaran jauh dari keluarga. Ada tugas. Selalu saya katakan pada mereka, “Sedang menjalankan misi suci dari Tuhan.” 

Bengalon, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Borneo Island

Seperti mati rasa. Sedikit haru tapi tak seberapa. Karena memang harus menemukan hal-hal yang menyenangkan untuk meringankan kesedihan. Ya, manusia mana yang tidak sedih harus jauh dari keluarga di hari yang sangat penting. Idul Fitri ini penting sekali. Dalam setahun cuma datang satu kali. Tidak sayang jika terlewatkan? Mana mungkin!

Sebenarnya tidak jauh beda dari lebaran-lebaran sebelumnya. Tetap ada opor ayam di rumah tetangga, jajanan mulai dari kue kering sampai minuman bersoda, anak-anak kecil yang berburu angpau dari pintu ke pintu, pakaian mereka yang serba baru, nyaris persis. Hanya saja, di tahun-tahun sebelumnya saya keliling ke rumah tetangga dan saudara bersama orang tua dan adik-adik saya. Sekarang, tetangganya saja sudah beda. Rombongan berkeliling beda pula. 

Saya sedang anti nonton tivi. Maklum anak rantau. Kami anak rantau sensitif dengan tayangan televisi yang bernuansa lebaran. Tayangan-tayangan itu selalu berhasil menjadikan suasana hati makin berantakan. Teman saya mengaku sempat menangis saat menyimak iklan mie instant di tivi. Nah! 

Ada satu hal lagi yang selalu terjadi setiap tahun. Setiap lebaran. Kolesterol meningkat pesat. Makin menumpuk. Kalau sudah over, persoalan jadi melebar kemana-mana. Hipertensi lah, ini lah, itu lah, bla-bla-bla. Bah! 

Maaf, saya jadi tertarik membicarakan kolesterol. Kolesterol ini kata orang dekat dengan makanan enak, hidup enak, pokoknya yang enak-enak. Kalau perlu, orang susah haram berkolesterol tinggi. Padahal beberapa mengatakan bahwa orang dengan hidup enak tetap bisa kontrol kolesterol asal tidak malas olahraga. Minimal tidak malas bergerak. Intinya tidak malas. Jadi, kolesterol ini identik dengan hidup enak atau hidup malas? 

Lalu, kalau dekat dengan peningkatan kolesterol, apakah lebaran identik dengan meningkatnya orang yang hidup enak atau orang malas? Ah, selamat bermaaf-maafan saja lah. Jangan lupa saling memaafkan dengan kolesterol. Ups… Minal aidin wal faidzin, semua saya maafin. Heheu 

Idul Fitri 1433 H

18 Agustus 2012

Matematika

Saya pernah mengirimkan tweet ini ke Linimasa (Timeline): “Cara berceritaku dipengaruhi matematika-ku. Celakanya, matematika-ku buruk. Jadilah ceritaku seperti matematika gagal.” 

Ini semacam belief. Tapi tidak terlalu belief. Teori yang tidak terbukti kebenarannya karena tidak pernah saya lakukan penelitian untuk membuktikan kebenaran teorinya. Jadilah saya menjadikannya sebagai belief. Belief yang tidak terlalu belief. Saya percaya, cara bercerita seseorang sangat dipengaruhi kemampuan matematikanya. Atau paling tidak pengetahuan matematikanya.

Misal, untuk mendefinisikan 9, akan muncul banyak cara. Paling sederhana mungkin dengan mengatakan bahwa sembilan itu persis setelah delapan. Orang lain bisa saja mengatakan bahwa Sembilan itu 4+5. Lain lagi akan mengatakan 3x3 sama dengan sembilan. Ada juga yang mendefinisikan dengan akar 81. Ada yang bilang sembilan itu bilangan ganjil ke lima setelah satu, tiga, lima, dan tujuh. Mungkin juga, bilangan ganjil pertama yang tidak termasuk bilangan prima. Ada banyak cara untuk sampai di angka sembilan. 

Biasanya, semakin pintar matematika seseorang, semakin pintar juga dia mengolah kata. Dia menguasai variasi-variasi kalimat untuk maksud yang sama. Orang itu bisa membongkar-pasang kata menjadi kalimat yang tidak biasa. Bukan lagi kalimat-kalimat konvensional yang banyak dipakai orang. Non-mainstream lah pokoknya. Dan itu terjadi begitu saja. 

Saya simpulkan saja: Buat mencapai 5, seseorang suka dengan logika 3+2, orang lain lebih suka dengan ganjil ke tiga, lain lagi dengan akar 25, dan seterusnya, dan seterusnya. Jadi wajar saja tiap orang punya gaya bercerita yang berbeda. Banyak jalan menuju lima.

08 Agustus 2012

Analogi Kopi

Mari kita membuat kesepakatan dulu di awal supaya tak perlu ada perdebatan soal racikan kopi. Meskipun debat itu cuma ada di masing-masing otak kita. Begini, ikuti aturan main saya. Apa yang saya katakan soal takaran ideal nanti mutlak benar. Sepakat! 

Saya adalah seorang barista. Agak ngeri memang untuk sebutan seorang pembuat kopi. Meski cuma kopi yang biasa dijual di tenda-tenda pinggir jalan atau trotoar. Tapi biarlah, biarkan saya terdengar ngeri. Sesekali.

Untuk membuat kopi yang sedap saya butuh air panas 200 ml, 2 sendok makan gula pasir, dan 1 sendok makan kopi bubuk. Paten. Kalaupun sedikit kurang atau lebih, terampuni. Saya yakin masih sedap. 

Dengan air panas 200 ml saja tanpa gula pasir dan kopi, saya sedang menghidangkan secangkir air panas. Yang namanya panas ya panas. 

Ditambah sesendok kopi bubuk, kali ini saya sedang menyuguhkan kopi pahit. Pahit pokoknya, tidak ada manis-manisnya. 

Dengan memasukkan sesendok gula, lumayan, sekarang terasa lebih "kopi". Tapi tetap kurang sedap. Sesendok gula lagi, nah ini baru namanya kopi yang sedap. 

Sama seperti hal-hal di secangkir kehidupan kita. Ada air panas, yang menghangat, mendingin, atau mungkin mengadem. Mengadem? Ah susah. Pokoknya itulah. 

Di dalam air itu kita sedang memasukkan kopi dan gula. Kadang-kadang kita eksperimental, secangkir kopi tadi sesekali terlalu pahit, juga terlalu manis. Keduanya sama-sama tak sedap. Ternyata terlalu manis itu tak sedap kan. 

Tapi tenang dulu, barista bisa bikin kopi baru. Selamat menikmati kopimu!

17 Juli 2012

Khawatir

Hidup ini kalau dirasa semakin lama semakin menyenangkan. Ada spot-spot tertentu yang selalu menarik untuk direnungi. Atau malah semua bagiannya menarik. Apakah setelah kematian akan ada bagian lain yang juga menarik? Siapa tahu. 

Seorang bocah laki-laki dulu begitu menggemari sepak bola. Sempat menyicipi disiplinnya organisasi. Mulailah pengalaman demi pengalaman datang dan antre. Beberapa tahun kemudian dia tumbuh menjadi lelaki yang mengenal musik. Dia meninggalkan hal-hal yang dulu digemari, meskipun sesekali dia menyapa ke belakang juga. Sekarang dia berusaha menjadi pria yang jauh lebih dewasa. Dan seterusnya. Begitu menariknya hidup ini.

Kalau boleh saya bilang, hidup ini sesingkat hujan. Banyak yang suka hujan. Beberapa orang menunggu hujan selesai. Tapi sayang hujan tak selalu menyisakan pelangi. Ada malapetaka yang sering mengintai. Banjir, longsor, belum lagi hujan yang disertai angin kencang, badai, petir, asam, dan kejadian alam lainnya. 

Semua itu terjadi bukan sebagai bencana, awalnya. Bukan malapetaka. Tak ada kehidupanpun alam berhak beraksi sesukanya. Hal-hal yang mestinya wajar saja. Tapi karena manusia punya kepentingan, mulailah kita beramai-ramai meneriaki “bencana!” 

Maaf, saya tidak tahu definisi bencana. 

Ilmu pengetahuan semakin berkembang. Pengetahuan untuk gejala yang sudah ada sejak lama. Pengetahuan yang ternyata makin mengkhawatirkan. Maksud saya, makin membuat kita khawatir. Dulu kita tidak tahu ada sebab-sebab kolesterol tinggi. Setelah ilmu pengetahuan mengungkap rahasia di baliknya, orang jadi antipati terhadap makanan berminyak, garam tinggi, bla-bla-bla. Katanya takut hipertensi, serangan jantung, dan sebagainya. Ternyata pengetahuan baru menciptakan kekhawatiran baru. Apakah lebih baik tidak usah diungkap saja supaya kita tidak mati dengan meninggalkan kekhawatiran untuk orang lain? 

“Mati ya mati saja, ndak usah pakai sebab! Kolesterol lah, jantung lah, kencing manis lah, saya jadi susah makan. Pilih makanan sehat kok susah amat! Coba kalau Si-A mati bukan karena penyakit anu, sebabnya ini, akibatnya itu….kan kita ndak khawatir! Kakek-nenek kita dulu mati, ya mati aja. Orang bilang karena tua. Ndak pakai embel-embel batu ginjal, stroke, dan tetek-bengek lainnya.” kata tetangga saya. 

Eh, jangan underestimate! Kamu pikir saya sedang khawatir? Khawatir untuk apa? Khawatir mengkhawatirkan kekhawatiran yang mestinya tak perlu dikhawatirkan? Saya nggak khawatir! Enggak! Tapi….

05 Oktober 2011

Resep

Saya heran. Sudah saya katakan berkali-kali, berbelas kali, berpuluh kali, sampai nanti beratus atau beribu kali, SAYA BUKAN PENULIS. Jangan bertanya cara menulis pada saya. Kamu bisa belajar dari saya, tapi saya tak sanggup mengajarmu karena saya memang bukan penulis.

Baiklah, saya akan bercerita sesuai pengalaman saja. Setelah ini tugasmu sendiri belajar dari cerita saya.

Udah, nggak usah kebanyakan ba-bi-bu. Menulis itu sama persis dengan berbicara. Kamu menyampaikan apa yang ingin kamu sampaikan. Jangan dibuat-buat. Biarkan tanganmu mengikuti setiap alirannya. Jangan melawan arus. Tuangkan saja apa yang aa di dalam dirimu. Tidak harus 800 atau 1000 kata. Jangan dibatasi. Kalau harus 2 atau 3 kalimat, ya tuliskan saja sebanyak itu. Lakukan terus seperti itu. Simpel kan?

Baca hasilnya atau tulisanmu tadi. Baca lagi. Baca dan pelajari apa yang kamu tulis sendiri. Kalau kamu menemukan kekurangan di sana-sini itu wajar. Misalnya, "Ah ini belum seperti Kahlil Gibran". Satu solusi dari saya, bacalah karya Kahlil Gibran sebanyak mungkin. Baca tulisan-tulisan yang kamu idolakan atau paling tidak tulisan yang menginspirasimu. Baca, baca, dan baca lagi sampai kamu merasakan emosi tulisan itu. Ulangi, ulangi, dan ulangi. Tapi jangan berhenti menulis. Tuliskan saja di kertas folio atau media apapun yang kamu pilih. Usahakan jangan dibuang. Karena kamu bisa mempelajari tulisanmu sendiri kelak. Memang begitu prosesnya. Jangan menargetkan membuat tulisan yang bagus dalam satu atau dua kali menulis. Coba baca artikel saya; Trial And Error.

Ada lagi orang yang bertanya pada saya, "Cara menulis agar dimuat di koran". Biar saya tegaskan, tulisan saya yang terbit di media cetak hanya 3 judul. Tiga! Mestinya dia sadar bahwa dia salah alamat.

Satu saja yang akan saya berikan, sekaligus agar kamu tahu. TULISKAN DENGAN EMOSI. Kalau sedih, tuliskan dengan sedih. Tuliskan kemarahan dengan marah. Sudah, lakukan saja itu. Ini hanya proses. Kamu akan menemukan caramu sendiri.

04 Oktober 2011

Be Better

Kali ini saya akan membeberkan pandangan saya. Tadinya ingin saya urai menjadi beberapa judul. Kira-kira tiga. Emang tiga! Tapi saya pikir ketiganya masih relevan dijadikan satu judul yang lebih padat. Tentang Manajemen Mutu, Be Better, dan Progresif.

Banyak orang ingin menjadi yang terbaik (best), menolak menjadi yang lebih baik (better). Apakah itu salah? Tidak. Malah sepenuhnya benar. Kepercayaan seseorang harus selalu benar bagi orang yang punya kepercayaan itu.

Menolak menjadi yang lebih baik. Menolak menjadi lebih baik. Orang ini tidak mau berdiri di podium dua. Harus di podium satu. Kurang lebih seperti itu. Sejak awal prinsipnya adalah bekerja keras untuk menjadi yang terbaik. Kalau semua orang menginginkan yang terbaik, masalahnya adalah podium satu hanya ada satu. Lagipula kemampuan setiap orang berbeda-beda. Si A ingin menjadi yang terbaik dengan kemampuan 350. Padahal pesaingnya adalah Si B dengan kemampuan 450. Celaka! Kalau begini, jadi banyak orang memaksakan diri. Ambisius.

Ada solusi lain. Seperti konsep manajemen mutu. Yaitu menjadi lebih baik. Dengan prinsip ini kita bisa lebih realistis. Coba saya gambarkan dalam cerita.

Sebelumnya maaf, saya tidak bermaksud membelokkan pola pikirmu. Saya hanya berusaha memberi solusi positif untukmu.

Dalam kelas ada 10 mahasiswa. Dengan prinsip Be The Best, kita harus menjadi yang nomor 1. Nomor wahid. Numero uno. Yang top markotop lah. IP harus yang tertinggi. Cum-laude kalau perlu. Kembali ke persoalan di atas, kemampuan orang berbeda-beda. Jatuhnya jadi ambisius.

Berbeda dengan Be Better. Kita tak perlu punya IP tertinggi. Tak harus nomor satu. Prinsipnya sederhana, kalau IP semester 1 kita 3.00, paling tidak IP kita di semester 2 harus 3.01. Kalau sekedar The Best, semester 1 dengan IP 3.90, semester 2 dengan IP 3.80 pun masih bisa menjadi The Best. Karena peringkat 2 mempunyai IP 3.40 misalnya. Dengan prinsip Be Better, keadaan ini dikatakan GAGAL.

Contoh lain, kasus keterlambatan masuk kelas. Kelas dimulai pukul 7. Dengan Be The Best kita harus berangkat pukul 6 karena tak mau orang lain datang lebih awal. Meskipun ternyata orang-orang lain selalu datang paling pagi pukul 7.30. Besoknya kita datang pukul 7.15 dan masih menjadi The Best. Be The Best dan terlambat. Bukankah menyedihkan.

Coba diubah dengan konsep Be Better. Kelas dimulai pukul 7. Kita tidak berambisi menjadi yang paling pagi, tapi malah terlambat. Kita masuk pukl 7.30. Dengan Be Better, besok pukul 7.29 harus sudah ada di dalam kelas. Besoknya lagi pukul 7.28 harus sudah datang. Terus saja seperti itu. Dengan begitu, 30 hari kemudian kita tak pernah terlambat lagi.

Cerita di atas hanya gambaran. Seperti yang saya katakan pada postingan sebelumnya, hidup ini proses, penuh trial and error. Kalau tak ada progres, artinya kita gagal. Progres.

Kita belajar, bukan untuk menjadi yang terbaik. Belajar adalah untuk menjadi lebih baik. Seribu tahun lalu kita tak tahu cara menerbangkan besi ke angkasa. Hari ini, bahkan kita bisa duduk serta di atasnya dan mengangkut puluhan orang menyeberangi lautan dalam sekejap. Dengan demikian kita telah menjadi lebih baik.

02 Oktober 2011

Trial And Error

Banyak yang meminta saya, "Cep, ajarin tes kerja dong!" Dan semacam itulah.

Barangkali kamu juga masih ingat dulu tidak banyak orang mau menerima keputusan saya. Waktu itu saya memutuskan untuk menggeser kepribadian saya yang lama menjadi yang baru. Sebenarnya itu bukan baru. Hanya kepribadian lain yang tidak saya gunakan sebagai identitas. Saya berusaha keras menjadikan kepribadian itu identitas baru saya. Dan hasilnya penolakan di sana-sini. Ada yang menganggap "Freak", "Alay", "Lebay", "Salah Gaul", dan sebagainya. Yang jelas komentar-komentar pedas yang cukup membuat hati siapa saja mendidih. Tapi beruntung, saya masih kuat berusaha.

Sekarang, lihatlah sekarang! Mereka datang menggali pelajaran. Akhirnya mereka sadar, dulu itu memang cara saya belajar. Lalu apakah saya berhasil? Dalam beberapa hal iya. Merekapun harus mengakui itu. Mereka memang mengakui. Kalau tidak, buat apa mereka datang. Mereka melihat saya berhasil melewati banyak tes kerja. Paling tidak, 2 perusahaan yang saya lamar telah bersedia menerima saya. Setelah melalui rangkaian tes yang cukup panjang tentu saja. Karena tidak bisa begitu saja lolos tes kerja dengan "asal ikut". Ada banyak kuncinya.

Hidup ini proses. Proses menjadi sempurna. Kabar buruknya, kesempurnaan itu tidak ada. Makhluk manapun takkan pernah sempurna. Ngeh? Kamu, saya, mereka, semuanya hidup. Artinya kita semua sedang berproses. Proses menjadi sempurna. Tapi kita takkan pernah menjadi sempurna. Will never.

Tapi mengapa kita memproses sesuatu yang tidak ada ujungnya?

Pertanyaan yang cerdas! Kita berproses sejauh apapun takkan pernah menemui kesempurnaan. Tapi selama kita hidup, kita akan berproses. Jadi, ada 2 kesimpulan. Pertama, proses itu keniscayaan. Artinya, mau tak mau kita tetap akan berproses dengan sendirinya. Suka tidak suka. Kedua, proses bukan mengantarkan kita pada kesempurnaan meski proses itu untuk menjadi sempurna. Ambiguitas yang menyeramkan. Kita mengejar kesempurnaan sekaligus tahu bahwa pengejaran ini tak berujung. Nah, itu dia. Memang kita berproses untuk tak ada ujung.

Siapa tak tahu Trial And Error. Itulah. Hidup ini trial and error. Percobaan, gagal, percobaan, gagal, dan seterusnya. Hidup ini bukan Doing And Ending.

Sekarang coba kita pertemukan pada satu kesimpulan segaris. Kita hidup ini sedang berproses. Kita berproses untuk menjadi sempurna. Tapi kesempurnaan itu tidak ada. Jadi kita hidup selamanya adalah berproses. Trial and error. Setiap Trial akan bertemu Error. Setiap Error harus kembali Trial. Jadi polanya: Trial-Error-Trial-Error- dan terus seperti itu.

Sekarang saya tanya, apakah kamu telah berproses dengan baik? Jangan tanyakan saya cara tes kerja. Saya hanya melakukan apa yang saya dapat dari Trial And Error kehidupan saya.

30 September 2011

Bukan Lumba-lumba

Rasa-rasanya saya semakin benci pada kisah-kisah orang sukses. Maaf, tepatnya pada orang-orang yang mengagung-agungkan mereka. Orang-orang itu terjebak dalam delusi hebat. Saya muak.

"... kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan."
-SOE HOK GIE

Kutipan yang kurang sedap bertengger di postingan ini sebenarnya. Tapi kalau penasaran kenapa saya tempel di sana, silakan cari sendiri kausa logisnya.

Banyak orang yang saya temui tidak belajar dari riwayat orang sukses. Mereka hanya menjadikan itu semua sebagai bahan fantasi. Menyelami angan-angan sampai lupa diri. Mereka berharap menemukan mutiara di dasar sana. Padahal semakin dalam menyelam, semakin tak terlihat dasarnya, semakin semu pula kesemuanya. Dan yang pasti semakin tipis oksigen yang dibawa. Kalau sudah begitu mau tak mau harus kembali ke permukaan. Atau satu pilihan lagi yaitu mati di dalam lautan fantasi itu sebelum menemukan mutiara. Tinggal pilih.

Buku-buku yang berisi kisah orang sukses itu dibuat supaya menginspirasi. Bukan untuk diselami. Bob Sadino? Siapa yang tidak kenal kakek yang satu ini. Bahkan Om Bob pun hanya memberikan satu resep untuk menjadi sukses.

Oke, saya ceritakan. Saya pernah mengikuti seminar yang pembicaranya Om Bob. Kebetulan waktu itu diadakan di kampus saya. Jadi tidak repot kalau hanya duduk mendengarkan saja. Karena saya memang tidak mau repot menghadiri acara semacam ini. Barangkali saya supaya lebih tepat, saya ganti redaksinya menjadi Talkshow saja. Dalam talkshow ini seorang teman bertanya pada Om Bob yang intinya kira-kira begini, "Bagaimana untuk memulai supaya sukses?" Jawaban Om Bob sederhana. Teman tadi diinstruksikan untuk berdiri menghadap tempat duduknya. Kemudian Om Bob berkata, "Langkahkan kaki! Lagi, terus, udah!" Teman saya melangkah sampai di tempat duduknya.

Sederhana kan? Yang kita butuhkan untuk menjadi orang sukses adalah "mulai melangkah dan melangkah". Sengaja saya kutipkan dari Om Bob. Karena saya tahu kamupun pasti mengidolakan kakek nyentrik ini. Mereka pasti mengidolakan juga. Jelas, bahkan resep dari Om Bob pun hanya "melangkah". Bukan menyelam.

Kurang puas dengan satu itu? Tahu Ippho Santosa? Kalau kamu penggemar kisah motivasi mestinya tahu. Dan biar saya simpulkan satu resep dari Bung Ippho. "ACTION". Sudah jelas? ACTION!

Berhentilah menyelam. Kamu bukan lumba-lumba.

18 September 2011

Merenung

Beda ladang beda belalang. Ah, bukan, bukan. Maksud saya, beda dulu beda sekarang. Tapi pepatah mana yang tepat? Sayang saya bukan ahli ilmu perpepatahan. Mestinya dulu saya ambil jurusan Pepatologi. Ha?

Dulu saya suka terburu-buru menulis hasil renungan yang belum matang. Ibaratnya orang bangun tidur kebelet boker. Kalau sekarang harus mengendap dulu berhari-hari, berminggu-minggu, malah berbulan-bulan. Alon asal kelakon. Begitu kata Pak Dalang dari Rembang. Saya sempat mendengarkan pentas Wayang Kulitnya yang disiarkan on-air di radio beberapa waktu lalu. Katanya, alon bukan berarti lamban. Alon tegese dipikir ati-ati. Pelan-pelan berpikir, hati-hati. Ojo grusa-grusu. Pepatah bijak selalu bisa ditarik kesimpulan positif.

Menulis bukan hobi saya. Bukan kebutuhan, bukan rutinitas, juga bukan pekerjaan. Tidak harus ketika waktu luang, saat kuliahpun bisa menjadi moment terbaik. Tentu saja bukan tulisan yang berhubungan dengan mata kuliah. Ada dorongan tiba-tiba yang entah dari mana datangnya. Dorongan itu yang kemudian memaksa tangan saya meraih pena dan memperkosa kertas sejadi-jadinya. Selalu terasa menyenangkan. Tapi lagi-lagi saya gagal mendefinisikan dorongan misterius itu.

Apa? Itu namanya hobi? Ya, itu sih terserah sampeyan.

Kembali ke atas. Sekarang saya lebih suka mengendapkan hasil renungan berlama-lama. Biasanya renungan tadi terbawa kemana-mana. Ke kelas, kantin, ranjang, bahkan jamban. Renungan itu membuat segala macam ganda (bau), rupa (warna), rasa (rasa) menjadi netral total. Bahkan mungkin saya pernah lupa beda bau jeruk purut dengan bau kentut. Pokoknya netral. Total.

Ngomong-ngomong soal pengendapan-renungan, diperpanjang pun rasanya belum juga matang. Masih ada juga topik yang buru-buru minta terbit. Tapi jangan salah, ada juga topik yang masih dalam masa inkubasi selama berbulan-bulan. Sampai sekarang masih saya kandung. Entah kapan jabang bayi ini mau mbrojol. Lho, iya kan, ada yang tidak buru-buru ikut demonstrasi. Nanti, insyaallah, saya muntahkan semuanya.

Merenung Sampai Mati. Masih enak didengar. Tapi bentar, siapa yang ngucap? Itu kan judul blog Prie GS. Cuma ditulis gitu aja buat header. Kalau nggak ada yang ngucap, mana mungkin kedengeran? Percayalah, saya mendengarnya. Namanya juga renungan. Merenung.

10 September 2011

Think of Thing

Wong akeh ki macem-macem. Orang banyak itu macam-macam. Ada yang macam saya, ada yang macam kamu, ada yang macam dia, pokoknya macam-macam.

Kamu percaya ada orang yang selalu melihat hal-hal biasa dengan kacamata positif? Semua hal bernilai positif baginya. Positive thinking, atau barangkali positive feeling seperti yang dikatakan Erbe Sentanu. Saya percaya. Seorang sahabat saya salah satu tersangkanya.

Menurutmu dia berbohong? Mungkin awalnya saya cuma tahu dari lisannya (bi lisan), tapi akhirnya saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa yang diucap lisannya itu dituntun feelingnya (bi kalbi). Tidak mudah menaksir hati seseorang. Menaksir? Mengestimasi. Saya sudah sampai di titik itu. I believe it. Kalau kamu tidak percaya padanya, setidaknya kamu harus percaya ada orang seperti itu. Namanya juga wong akeh.

Saya pikir fine-fine saja berpikir sepositif mungkin. Malah kita harus selalu berpikir positif. Tapi yang tidak boleh dilupakan adalah memahami kemungkinan negatifnya. Sederhananya begini, semua hal akan selalu mempunyai nilai positif dan negatif sekaligus. Sudah menjadi kodratnya makhluk. Apa itu makhluk? Makhluk itu lawan kata dari Khalik. Khalik itu pencipta, makhluk itu yang diciptakan. Manusia, binatang, tumbuhan, air, batu, udara, api, semua selain Khalik itu makhluk. Khalik itu Tuhan. Berarti selain Tuhan, tergolong makhluk. Jadi semua makhluk harus punya dua nilai sekaligus. Positif dan negatif. Selalu begitu. Makanya mengkoreksi dan mengkritik itu mudah. Asal jeli menelanjangi kenegatifannya saja bisa menjadi kritik yang super-pedas.

Dari dua nilai tadi, akan muncul 3 kemungkinan kesimpulan. Pertama positif, kedua negatif, ketiga netral.

Kesimpulan positif akan muncul jika kita lebih banyak menerima nilai positif daripada negatifnya. Misalnya, Boy hari ini bolos kuliah. Diam-diam kita mencoba menyimpulkan apakah yang dilakukan Boy itu benar atau salah, positif atau negatif. Hasilnya kita menemukan 11 alasan dan dugaan. Enam di antaranya adalah dugaan positif, sisanya negatif. Jadi rasio positif dibanding negatifnya adalah 6:5. Tapi bukan berarti kesimpulan kita tentang Boy pasti positif. Depend, tergantung lebih banyak mana nilai yang kita terima. Biarpun ada 17 dugaan negatif dan hanya ada 1 dugaan positif, nilainya akan menjadi positif kalau kita lebih menerima sisi positifnya. Begitu sebaliknya.

Selanjutnya netral. Seperti yang kamu duga, kita menerima dugaan positif sama banyak dengan dugaan negatifnya. Atau bisa juga terjadi saat kita sama sekali menolak semua dugaan. Dengan kata lain kita sama sekali tidak peduli. Kesimpulan netral.

Sekarang sudah semakin jelas. Karena segala hal mempunyai dua nilai (positif & negatif), ada baiknya kita menemukan keduanya sebelum menyimpulkan. Berpikir positif bukan berarti hanya tahu nilai positifnya saja. Temukan juga nilai-nilai negatifnya. Soal kesimpulan yang kita ambil nanti positif atau negatif, itu urusan belakang. Tapi sebaiknya kesimpulan positif atau positif thinking.

Jadi, tetap berpikir positif, tapi pahami juga kemungkinan negatifnya. Sekedar memahami.

05 September 2011

Blogging

Apa kabar?

Entah itu pertanyaan untuk siapa. Sekedar menyapa. Cukup lama blog ini sepi. Warung Kopi Kothok, manifestasi renungan saya dari waktu ke waktu. Saksi transformasi anak manusia. Pergulatan yang tidak banyak tampak. Itulah mengapa dokumentasi menjadi penting. Kita bisa melacak sejarah.

Saya belum ingin berbicara hal-hal lain dulu. Anggap saja ini sebagai pemanasan. Pertama, untuk membangkitkan rindu. Kedua, menyesuaikan diri. Ketiga, menata mindset kembali. Keempat, menyatukan kembali Alter-Ego yang sama sekali berbeda wujudnya. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Tugas Akhir (TA). Itu alasan yang dulu saya berikan pada diri saya sendiri mengapa blog ini harus sepi. Ya, biarkan sepi barang sebentar. TA kan syarat kelulusan Diploma III di Polines, gila aja sampai nggak lulus gara-gara keseringan ngeblog. Saya sibuk. Sebenarnya tidak terlalu sibuk. Benar-benar luang malah. Cuma 3 minggu terakhir di bulan Agustus saja yang menyita pikiran. Terserah. Dapat diterima.

Microblog dan social network. Ah maaf, maksud saya social network dan microblog. Twitter dan Facebook sajalah. Keduanya bukan hal-hal yang saya yakini akan menggeser rutinitas blogging saya. Tapi nyatanya iya. Baru saya sadar belakangan. Facebook lebih menyenangkan digunakan untuk berinteraksi dengan detail tertentu. Semua orang tahu. Twitter? Twitter menawarkan gaya blogging yang lebih sederhana dari blogsite atau webblog. Barangkali itulah mengapa disebut microblog. Mungkin. Saya hanya menyimpulkan.

Belakangan saya melakukan uji coba. Bagaimana kalau hasil renungan yang seliweran di otak saya tuangkan ke Twitter? Mengejutkan. Yang biasanya hanya menjadi satu judul posting, di twitter bisa saya urai menjadi belasan bahkan puluhan tweet. Dan biasanya lebih mudah dicerna. Kosa kata mulai saya ubah sesederhana mungkin.

Jadi Twitter lebih unggul? Tidak juga. Blog mempunyai lebih banyak keunggulan. Lebih lagi Blogspot. Artikel blog lebih mudah dibuka-buka lagi dikemudian hari. Lebih rapi. Soal maintenance memang sedikit lebih repot. Kesempatan berinteraksi juga lebih kecil. Tapi soal frontend blog jauh lebih menarik.

Kenapa "lebih lagi Blogspot"? Karena yang punya blogspot adalah perusahaan raksasa Google. Google lebih populer dengan Search Engine (SE)-nya. Orang-orang di seluruh belahan bumi lebih banyak menggunakan Google daripada SE yang lain. Tanpa bertanya lagi kita bisa menyimpulkan Blogspot itu integrated dengan SE-Google. Kesimpulan sederhananya, blog yang dibuat dengan Blogspot mudah ditemukan di SE terutama Google. Ya, tanpa registrasi sekalipun.

Lah, ngomong apa jadi apa ini tadi? Bodo amat, namanya juga pemanasan. Berikutnya saya akan menuliskan hasil renungan saya di Cepu. Saya memang mencari ilmu sampai ke Semarang, mencari pengalaman sampai ke Surabaya, Yogyakarta, Malang, bahkan Salatiga yang orang bilang "Persinggahan Intelektual". Tapi Cepu lebih banyak mengilhami saya daripada tempat lain. Cepu adalah tempat perenungan yang paling ideal bagi saya.

Saya telah banyak mengalamai kejadian-kejadian penting selama rehat blogging. Kejadian-kejadian yang kemudian membuat saya belajar lebih banyak lagi. Lain waktu barangkali saya ceritakan. Siapa tahu kita bisa sama-sama belajar. Happy blogging!

19 Juni 2011

Takdir

Kamu percaya takdir? Dalam Islam ada dua takdir; yang bisa diubah dan yang tak bisa diubah. Semua pertanyaan kita tentang masa depan akan dijawab takdir-yang dibawa waktu.

Takdir yang bisa diubah itu banyak. Makanya kita diperintah berikhtiar supaya jawaban yang kita dapat sesuai dengan apa yang kita harap. Kalau belum sesuai harapan, artinya ikhtiar kita belum optimal. Tak ada pengecualian. Titik.

Ikhtiar optimal tidak harus maksimal. Bisa jadi malah minimalis. Asal ikhtiar kita sudah bertemu garisnya, sukses!

Sedang takdir yang satu lagi benar-benar tidak bisa diubah. Di antaranya; hidup, mati, jodoh, dst. Tapi tetap kita wajib berikhtiar. Kalau takdirnya mati ya supaya khusnul khotimah-bukan ditunda matinya. Yang digariskan adalah kematiannya, bukan catatan yang dibawanya ketika mati. Kita berhak menentukan catatan apa yang akan kita bawa setelah itu-sebelum terlambat, maut menjemput.

Semua hal di dunia akhirnya akan bertemu takdir. Entah takdir membawanya ke mana. Entah takdir yang mana saja. Yang fleksibel atau yang paten. Biasanya takdir-takdir fleksibel akan bermuara pada takdir paten. Manusia boleh saja memenangkan takdir-takdir fleksibel, tapi tak akan dapat menawar takdir paten barang satu kata.

Kamu boleh saja mendapatkan perawatan kesehatan dari dokter nomor wahid di seantero jagad. Kamu mungkin saja memiliki jaminan gizi, vitamin, nutrisi, oksigen, dan tetek bengek lain yang terbaik. Kamu manusia dengan kawalan ketat bodyguard kekar dan pasukan anti teror sepanjang jalan. Kamu telah berikhtiar dan mungkin memenangkan takdir fleksibel. Tapi jangan bilang "nanti" pada malaikat pencabut nyawa. Orang paling sehat, aman dan terjamin seperti kamu pun akan gagal negosiasi maut. Itu salah satu takdir paten.

Berikhtiar saja dengan optimal, lalu bertawakal. Takdir paten sendirinya akan memperterang. Tak perlu banyak mempertanyakan. Saya harap kamu mengerti.

14 Juni 2011

Cemburu

Sudahlah, jangan bertanya terus. Saya tidak semengerti yang kalian kira. Soal pengalaman saya pikir kita sama. Kurang lebih 20 tahun bertemu orang-orang yang berbeda. Menghirup udara yang sama. Memijak tanah yang sama. Dipayungi langit yang sama. Bumi kita sama. Negara kita sama. Kalaupun memang berbeda mungkin cuma satu dua tahun. Atau paling pol tiga empat tahun. Malah beda kita cuma dalam hitungan bulan dan hari, bahkan jam. Itupun waktu saya yang lebih singkat. Jadi berhentilah bertanya!



Baik kalau kalian memaksa. Tapi untuk kali ini saja.

Cemburu? Cemburu itu gejala wajar manusia. Artinya kalau kamu bisa merasakan cemburu, kamu boleh tenang karena kemungkinan kamu manusia. Ditambah beberapa syarat mutlak lain, baru kamu bisa mengantongi KTP. Karena penduduk itu manusia. Kamu bebas menikmati fasilitas-fasilitas khusus manusia. Banyak LSM yang siap membela kalau kamu dihalang-halangi menikmati fasilitas tadi. Fasilitas asasi tentunya.

Jadi jangan khawatir, kamu sedang dicoba sebagai manusia. Kalau ujianmu gagal, … saya tidak mau mengatakan … .

Baik, baik, kalau gagal predikat manusiamu bisa dicopot. Memang menyeramkan. Tapi apa boleh buat. Ini aturannya.

Tenang saja, semua manusia merasakan cemburu yang juga kamu rasakan. Hanya takarannya berbeda-beda. Cemburu itu nikmat. Percayalah, tak ada satu hal pun di dunia yang sia-sia!

Orang bilang, cemburu tandanya cinta. Tepat! Manusia cemburu karena ada cinta. Hidup penuh cinta tanpa cemburu bagaikan sekeranjang jeruk manis tanpa satu buahpun jeruk masam. Lalu seorang teman menyela, “Bukannya bagai sayur tanpa garam?”

Saya lanjutkan, itu pendapat orang lain. Sayur tanpa garam itu hambar. Rasanya bukan tak enak, tapi tak sedap. Dan lidah saya tidak terlatih menikmati rasa hambar, tak sedap. Tak enak juga sih. Saya harap kamu pun demikian.

“Lalu bagamaimana dengan jeruk tadi?”

Cinta itu nikmat. Cinta bukan hambar, tak sedap, apalagi tak enak. Cinta itu manis. Ingatlah betapa manisnya Ibu mengantarmu ke sekolah pertama kali. Betapa manisnya Ibu mendekapmu saat hujan badai di luar sana. Betapa manisnya Ayah membawakan mainan kesukaanmu. Betapa manisnya Ayah terjaga hingga larut menunggumu pulang. Betapa manisnya cinta itu.

Tapi apa jadinya kalau sekeranjang jeruk manis tadi kamu santap tiap hari selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun? Pelan-pelan rasa yang tersisa tinggal manis saja. Kamu akan lupa nikmatnya rasa manis jeruk-jeruk itu. Jadi yang kamu butuhkan hanya satu buah jeruk masam di dalam keranjang supaya kamu lebih menikmati jeruk manismu. Dua boleh, tiga dimaafkan, tapi jangan terlalu banyak!

“Jadi apa hubungan semua ini?”

Ternyata kamu perlu diupgrade. Banyak processor canggih di luar sana. Murah meriah. Obral. Kalau hanya mampu secondhand juga banyak yang jual. Pasar loak pusatnya.

Kesimpulannya, sekeranjang jeruk manis tanpa jeruk masam tetaplah manis. Sampai kiamatpun tetap manis. Tapi kamu akan sulit menghargai manisnya jeruk itu kalau sesekali tak merasakan jeruk yang masam. Kecaplah jeruk masam itu maka kamu akan menyadari betapa jeruk manis itu nikmat luar biasa. Tak ada kertas paling putih kalau tak ada yang lebih hitam. Minimal lebih buram. Mau kertas terputih harus paham bagaimana yang lebih buram. Tidak mungkin mengakui paling putih kalau tak tahu ada yang buram.

“Dipermudah sajalah!”

Cinta itu manis. Cemburu itu masam. Cinta tanpa cemburu itu tetap manis. Tapi cinta dengan cemburu itu terasa lebih manis. Cinta dengan cemburu itu nikmat. Cemburu itu milik tiap manusia. Tiap orang. Kamu, saya, dia, mereka, semua. Jadi kamu normal! Kamu pasti pernah cemburu ketika orangtuamu lebih memperhatikan kakak atau adikmu daripada kamu. Kamu mungkin cemburu saat orangtuamu lebih asik dengan pekerjaannya daripada menanyakan nilai ulanganmu. Cemburu itu manusiawi!

“Tapi yang saya tanyakan cemburu pada lawan jenis –dalam tanda kutip! Itu lho si DOI!”

Ya sama saja. Tetap berlaku seperti itu. Tapi hati-hati jangan jeruk masamnya kelewat banyak! Nanti menyusahakan orang lain, menyusahkan diri sendiri juga. Salah-salah malah over dosis, cilaka Ente!

“O… ya, ya! Kamu kok pinter to?

Bukan saya yang pinter, tapi kamu yang belum paham. Semua orang juga pasti ngerti hal-hal begini. Kebetulan saja kamu bertemu saya. Kebetulan pula saya yang pertama membantumu memahami hal begini. Alhamdulillah.

12 Juni 2011

Berkendara

Saya benci menjadi melankolik. Tapi semakin saya membenci semakin menyiksa pula ketika dia datang. Biarlah, kita tak dapat merasakan nikmatnya keceriaan kalau belum pernah merasakan sendu. Dari melankolik juga blog ini jadi penuh.

Menjalani hidup sudah seperti berkendara di jalan raya saja. Sometimes bertemu persimpangan semrawut tak ada rambu lalu lintas. Tak semua persimpangan seberengsek itu tentu saja. Ada juga-malah banyak- yang penuh dengan rambu. Beruntung kalau melewati jalan seperti ini. Ada peringatan lampu kuning supaya mengurangi kecepatan. Banyak kendaraan-kendaraan lain tak kalah bernafsu ngebut daripada kita. Mereka juga punya kepentingan. Apapun itu. Meski cuma berkepentingan pamer kenekatan.

Saat lampu merah kita wajib berhenti. Ibarat menulis karangan, kita harus segera membubuhkan tanda titik. Mau dilanjutkan dengan kalimat baru atau paragraf baru, itu urusan nanti. Yang penting berhenti dulu. Kalau kita termasuk orang pamer nekat, jangan heran kalau tiba-tiba diseruduk kendaraan-kendaraan lain dari samping kanan kiri. Failed lah sudah. Itu kalau beruntung, kalau tidak ya game over.

Yang serasa nikmat, bebas, dan menyenangkan adalah ketika nyala lampu itu hijau. Bagi orang yang grusa-grusu pasti kendaraannya dipacu sekencang dia bisa. Namun sebagian lagi lebih memilih tetap pelan. Tergantung selera dan pertimbangan.

Saya termasuk orang yang cukup pelan. Tapi kadang juga harus ngebut. Semua pengendara selalu punya alasan untuk pelan atau ngebut. Bukannya pelan untuk mengulur waktu, bukannya takut ini atau itu, tapi usia yang menjadikan saya harus penuh pertimbangan. Dulu saya juga pengebut jalanan. Wajarlah abu-abu. Tapi sekarang lain cerita. Bagaimana kalau tiba-tiba jalan di depan penuh lubang? Bagaimana kalau mendadak ada orang nyeberang? Bagaimana kalau begini? Bagaimana kalau begitu? Semua harus diukur.

Saat ini saya sedang berada di persimpangan. Nyala lampu lalu lintas di depan sedang hijau. Tujuan awal saya lurus ke depan. Tapi lihatlah jalan melintang ke kanan dan ke kiri yang sepertinya teramat bebas untuk dilalui. Entahlah, lampunya di mana-mana. Kalau mendadak banting setir, bahaya mengancam. Kendaraan-kendaraan di belakang siap menghantam. Mungkin saya harus tetap lurus. Nanti kalau waktu membawa saya ke jalan melintang itu, biar saya jalani.

Di depan sana mungkin ada jalan berlubang, berdebu, berair. Mungkin suatau saat nanti saya harus melalui jalan-jalan tikus. Sempit, ramai, padat, berisik. Sama saja seperti jalan protokol.

Atau nanti saya putuskan untuk melewati jalan tol. Berharap lebih nyaman dari jalan konvensional. Ah, itu nanti. Sekarang biar saya jalankan lurus dulu.

Besok kalau saya lihat kamu di pinggir jalan, kamu boleh menumpang. Barangkali tujuan kita sama. Takdir yang akan memperjelas siapa nanti yang berkendara bersama saya sampai mana. Bisa jadi kelak saya yang menumpang orang lain. Kamu juga harus mau memberi tumpangan kalau memang saya butuh tumpangan.

Biarlah waktu yang menegaskan. Sekarang saya harus berkendara dengan tujuan semula. Kita memang harus konsisten. Sudahlah, sudah. Saya harus jalan. Kendaraan di belakang mulai berisik memainkan gas dan menyalakkan klakson. Iya Pak, Bu, Dik, Bro, Gan, Ndes, Dab, Cuk, …, sabar!

02 Juni 2011

Kantin TN

Pukul 06.55 Saya mulai duduk di sebuah bangku oranye yang kalau digoyang sedikit saja berisiknya minta ampun. Maklum, warisan sejak tahun '87 saat kampus ini masih bernama Politeknik Undip. Mudah saja mengetahui riwayat kursi-kursi udzur ini. Di belakang sandaran tiap kursi tercetak identitasnya secara permanen.

Saya sedang menikmati sibuknya pagi di Kantin Tata Niaga (TN) Politeknik Negeri Semarang (Polines). Lalu lalang khas yang hanya bisa saya dapat satu kali dalam satu hari. Tak ada satupun mahasiswa dan dosen yang berangkat luput dari bidikan Kantin TN. Bisa dipastikan mereka kebagian jadwal kuliah jam 7. Tapi hebat! Sampai pukul 07.25 masih ada saja mahasiswa atau dosen yang baru datang. So sweet.

Mungkin kamu pun akan betah berlama-lama duduk di sini kalau kamu juga menangkap semua adegan ini. Saya hampir melepaskan tawa mengisi penuh ruang kantin ketika mendapati seorang mahasiswi kesulitan menaklukkan high heel-nya. Betapa tersiksanya, bisik Saya. Mungkin ini hari pertama kakinya dibalut sepatu yang ditopang hak setinggi jengkalnya sendiri. Untunglah Saya masih bisa memaksa tawa redam menjadi senyum kecil. Apa jadinya kalau gagal. Saya memperhitungkan reaksi masa.

Tak jauh dari sana, bahkan tepat di belakangnya, mulai terlihat pemandangan demonstratif pasangan mahasiswa-mahasiswi memamerkan kemesraan. Yang lebih hoax adalah muncul sepasang dara yang lengketnya seperti ketumpahan alteco. Entah itu dara atau burung onta. Sampai Saya harus berbisik nakal, "itu yang cewek pasti korban high heel juga. Kasian yang cowok jadi pegangan sepanjang jalan".

Kamu (baca: lelaki) mungkin tidak akan mau beranjak dari kantin setelah meletakkan bokong di kursi tua ini. Bukan karena kursi tua ini bisa memijat bokongmu, tapi karena kamu sedang berada di pinggir catwalk dan karpet merah. Bayangkan saja, kamu sedang menjadi tamu kehormatan dalam pagelaran akbar. Pentas yang menyuguhkan bermacam seni. Fashion Show? Jelas. Cuplikan adegan sinetron atau film Indo? Ada. Ya, kadang-kadang atau malah terlalu sering melankolik.

Dan yang akan membuatmu betah adalah para aktrisnya. Tidak kalah fashionable dan menor dibanding para wanita bahan baku infotainment yang biasa kamu ikuti. Saya tahu kegemaranmu. Tenang saja, bisa ditemui di sini. Dengan sedikit sentuhan kuas dan tepung beras saja kambing bisa terlihat cantik di matamu. Poleskan sedikit gincu, sempurna. Tapi jangan khawatir, Men, ada yang benar-benar bening. Kapan-kapan saya tunjukkan.

Coba bayangkan berapa rupiah atau dolar yang harus kamu keluarkan untuk duduk di kursi VIP pagelaran akbar macam ini. Saya cukup dengan membayar secangkir kopi saja dapat duduk nyaman di kursi paling depan. Mau gratisan pun bisa. Boleh. Tak ada pijitan tak jadi soal. Apalah arti ke-empuk-an ketimbang sugesti menggelikan yang akan mengawali senyummu sepanjang hari. Indahnya hidup ini.

Eiitss, ada temen yang gabung nih. Ya udah, udahan.

Ya, awalilah dengan senyum, maka akan berakhir dengan senyum. Temukan caramu!

This is my way.

01 Mei 2011

Ke-CINTA-an

Cinta. Obyek yang akan selalu menarik untuk diperbincangkan. Untuk semua kalangan, semua umur, dan semuanya. Sejarah tidak akan menghapus nama Kahlil Gibran dari halaman ke-cinta-an. Seorang yang -mungkin- dianggap paling mengerti tentang cinta. Karya-karyanya diabadikan dalam lembar bahkan eksemplar komersial. Pencinta pada generasi berikutnya tidak henti memuja teori-teori cinta Gibran. Akibatnya, dengan ngawur dan buru-buru orang melakukan generalisasi. Terciptalah stereotipe pencinta masa kini. Seenak kepalanya saja.

Beberapa orang menolak teori percintaan Gibran dengan teorinya sendiri. Orang lain menolak teori tadi, dan ditolak lagi oleh orang yang berbeda, dengan teori yang berbeda pula. Semua merasa paling benar karena masing-masing menawarkan dalil dari pengalaman pribadi. Menceritakan apa yang sungguh-sungguh telah dialami. Bukan begitu tapi begini.

Seorang pengamat ke-cinta-an mestinya mengenal nama Plato. Filsuf Yunani yang kemudian sangat berpengaruh bagi perkembangan peradaban. Plato memperkenalkan definisi cinta yang agaknya teramat luhur dan nyaris mustahil mendapati yang demikian. Cinta yang murni atas cinta, terlepas dari embel-embel apapun yang merusak makna cinta -birahi misalnya. Kini dikenal sebagai cinta Platonik.

Definisi Plato sepertinya diamini Soe Hok Gie. Seorang cendekiawan yang cukup radikal dan tidak kenal kompromi:
"Perkawinan bagiku identik dengan perhubungan kelamin. Jadi identik pula dengan nafsu. ... bagiku tak ada tujuan perkawinan buat apa yang disebut cinta dengan variasi-variasinya yang nonsens. ... Bagiku cinta bukan perkawinan."
Beberapa tahun kemudian dia mengubah keyakinannya sendiri:
"Kurang lebih 1-2 tahun yang lalu aku yakin bahwa cinta = nafsu. Tapi aku sangsi akan kebenaran itu. Aku kira ada yang disebut cinta suci. Tapi itu akan cemar bila kawin. ... Kalau aku jatuh cinta aku tak mengawininya."
Tentu saja ini menjadi teori yang paling banyak ditolak. Bagaimana mungkin seseorang bisa tetap mencintai tanpa alasan-alasan. Tapi mudah-mudahan kita masih menyimpan cinta luhur ini. Setidaknya kamu cinta juga pada orangtuamu, saudaramu, negerimu, umat manusia, dirimu sendiri, dan seterusnya. Semua hal mudah saja menjadi loveable dengan kekuatan mindset kita. Tidak perlu repot-repot mencari pembuktian atas "nothing's impossible".

Tapi buanglah cinta platonik dari kisah romansamu bersama pendamping hidup yang kau pilih. Cinta platonik tidak layak berlaku bagi sejoli yang telah mengikat janji dalam pernikahan. Kamu (yang muslim: lelaki islam) pasti tahu kamu diwajibkan menggauli isterimu. Dan kamu (wanita) berhak mendapatkan itu. Baca, dan lupakan.

Dari sekian banyak teori ke-cinta-an, ada pernyataan yang paling sering disebut dalam forum cinta. Love is blind "cinta itu buta". Saya sepenuhnya menolak keyakinan tersebut. Pertama, karena manusia dianugerahi kemampuan logika yang tinggi. Kedua, bukan "cinta itu buta", tapi cinta itu bisa membutakan. Kamu tidak mungkin mencintai seseorang dengan memejamkan seluruh alat analisamu. Minimal otakmu lah yang pertama bekerja dan bereaksi.

Dia memang tidak putih dan berambut lurus, tapi dia ramah. Dia tidak pandai atau aktif, tapi dia jujur. Dia bukan anak pejabat apalagi bangsawan, tapi dia berjiwa besar. Dan lain-lain.

Itu artinya kamu belum buta. Akan selalu ada alasan kita mencintai seseorang. Bohong kalau tidak. Logika membuka jalan kita untuk senantiasa realistis. Kadang kita menilai seseorang "materialistis", sebenarnya kamu kurang jeli. Dia hanya realistis.

Tapi cinta memang bisa membutakan. Kamu bisa dengan mudah menggadaikan harga diri. "karena cinta" katamu. Seseorang bisa membunuh sahabatnya karena dibutakan cinta. Hal-hal bodoh dan bullshit. Bukan cinta yang salah. Kegoblokannya saja yang terlanjur mengakar.

Berhentilah mempercayai penyanyi-penyanyi idolamu. Lirik cintanya memang meyakinkan. Tapi itu semua hanya akan membuatmu se-mellow mereka, se-fanatik mereka, se-maniak mereka, se-apatis mereka, se-menyedihkan mereka, seperti mereka.

Dengarkan apa pendapat orang-orang lain, pahami lalu lupakan. Karena kamu akan menemukan cintamu di dalam dirimu sendiri. Satu pesanku, keputusan yang paling bijak adalah memaknai cinta sepositif mungkin.

Definisi cintaku benar bagiku, definisi cintamu benar bagimu.