Tampilkan postingan dengan label Melankolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Melankolik. Tampilkan semua postingan

09 Oktober 2011

Boy dan Gadis

Bokong Boy masih betah berada dipangkuan kursi kayu tua di teras rumah Gadis. Bukannya Boy tak tahu kursi itu sekeras batu. Malah dia merasakan. Lima menit saja merelakan bokong dicumbui kursi ini, sama dengan off-road puluhan kilometer. Boy mendengar. Setiap kali kakinya digerakkan, kursi itu berdecit keras. Protes. Tapi dia tetap enggan beranjak dari sana. Dia tenggelam di dalam obrolan bersama Gadis. Satu jam sudah Boy mendengar celotehan sahabatnya itu. Semakin lama, semakin dalam dia menyelami mata Gadis. Matahari hanya menyisakan cahaya bekas kegagahannya. Tatapan mata Boy semakin hangat.

"Gantian kamu dong Boy yang cerita. Dari tadi ngelihatin mataku terus. Ada belek ya?" Gadis membuyarkan konsentrasi Boy yang sedang menikmati indahnya makhluk Tuhan di hadapannya itu, "kamu capek? Mau pulang?"

Boy gelagapan. Dia tarik nafas panjang-panjang, "What a beautiful"

"Beautiful? Ah bisa aja kamu Boy. Aku emang cantik dari dulu kali. Eh, jangan-jangan kamu suka aku ya?" Gadis tersenyum menggoda.

Boy memejamkan mata sejenak. Lalu segera membukanya kembali. Dia tak ingin kehilangan kesempatan memandang bidadari tak bersayap itu. Boy tersenyum kecil.


"Aku Adam, kamu Hawa. Kalaupun kamu bukan Hawaku, setidaknya Adam mestinya memang mencintai Hawa. Adam memang ditakdirkan berdampingan dengan Hawa. Jadi, mana mungkin aku menolak mencintaimu. Semua begitu alami.

Aku tak ingin munafik, tak juga bermaksud melankolik. Karena cinta datangnya dari Sang Khalik. Secuil kecil gejala kosmik.

Cinta itu manusiawi. Tak ada manusia yang tak punya cinta. Kalau ada makhluk berwujud manusia tapi tak bercinta, dia pasti setan. Paling tidak manusia yang telah jadi setan. Kata Putu Wijaya, Asal setan sudah apriori; pasti legam. Tidak ada yang abu-abu! Cinta itu milik manusia, bukan setan. Setan tak punya cinta. Dan aku bukan setan. Aku manusia. Jadi, biarkan aku mencintaimu.

Ini bukan cinta sederhana yang kamu kenal sewaktu abu-abu dulu. Cinta ini tak sekedar untuk memasang namamu di profil FB-ku. Aku tidak sedang mencari wanita yang mau kugandeng tangannya di Mall. Bukan wanita yang memelukku saat kubawa dengan motorku. Tidak juga agar kamu mengganti namaku di Phonebook dengan "Sayang". Cinta ini tak sesederhana itu.

Aku sedang berbicara denganmu. Dengan sahabat hatiku. Berharap akupun sahabat hatimu.

Memang kamu salah alamat jika datang padaku dan menginginkan pria dengan tampilan rupawan. Kalau aku setampan itu, pasti sudah bergabung dengan Boyband. Jangan salahkan lahirku. Tak ada orang yang merancang desain dirinya sebelum wujudnya dicetak. Aku tidak bisa menawar padaNYA. Ya, Dia yang memberiku semua ini.

Aku bukan mereka yang menawarkan cinta pada kekasihnya. Hidup dengan cinta. Makan juga makan cinta. Biarlah, itu mereka. Aku bukan juga mereka yang menjanjikanmu materi berlimpah untuk hidup bahagia. Seandainya kebahagiaan itu memang bisa dibeli dengan materi, tak mungkin banyak konglomerat berakhir di Rumah Sakit Jiwa, atau Panti Jompo. Sedangkan mereka yang sehari makan sekali saja bisa mati tersenyum di rumahnya sendiri. Para konglomerat menyedihkan itu sebenarnya hanya menggadaikan kebahagiaannya untuk membawa pulang harta. Sayang mereka gagal menebus kebahagiaan yang tergadai itu.

Dengarlah, aku tak ingin menjadi mereka. Aku hanya menjanjikanmu surga. Aku akan membawamu ke sana. Mudah-mudahan kamulah perhiasan terindah dalam hidupku. Semoga kamu patahan tulang rusukku. Biar kutolak semua bidadari surga kelak. Agar kamu satu-satunya bidadariku di sana. Aku ...."

Ya. Seharusnya Boy menumpahkan itu semua pada Gadis. Tapi puluhan kalimat itu hanya tertahan di tenggorokan. Kemudian ditelan kembali memenuhi dada. Boy butuh waktu yang tepat untuk memuntahkan semua ini. Tidak sekarang. Nanti.

***

"Aku ingat, itu lima tahun lalu. Kursi ini masih seperti dulu." Boy berusaha mengais-ngais kenangannya.

"Dan kamu juga masih seperti dulu," Gadis mengumpulkan sisa ingatannya, "kamu tak pernah mengenalkan wanita itu padaku. Dulu kamu bilang, dialah yang menjadi alasanmu bekerja keras. Mengejar cita-cita. Katamu, dia akan menjadi satu-satunya bidadarimu di surga nanti. Tapi sampai hari ini kamu belum meminangnya. Menunjukkan padaku saja belum."

Boy diam lama. Ingin memuntahkan isi dadanya yang sejak lima tahun lalu disimpannya. Tapi,
"Tapi sudah tak mungkin lagi."

Gadis menoleh kepada Boy. Menyelidik isi kepalanya. Tapi Gadis bukan paranormal. Tatapannya diakhiri dengan anggukan berkali-kali.

"Kamu memang masih seperti dulu. Aku tak pernah tahu apa isi kepalamu. Seharusnya aku jadi dokter saja supaya bisa membongkar kepalamu." Gadis tertawa.

"Ya, memang masih seperti dulu."

"Mama!" bocah kecil itu muncul digendong seorang Pria.

"Makasih ya Boy, mau datang di ulang tahun pertama Dinda" sapa pria itu ramah.

Boy tersenyum.
"Iya, sayang kan kalau melewatkan ulang tahun pertama keponakan."

"Ma, dicari Bu Sri tuh" kata pria itu menyerahkan Dinda pada Gadis.

"Iya, Pa. Boy, aku tinggal dulu ya. Gendong nih keponakanmu." Dinda pindah di gendongan Boy. Gadis mencium putrinya. Kemudian meninggalkan mereka.

Manusia boleh berencana, Tuhan yang menyetujui. Jalani saja apa yang diberikan. Kalau dilalui dengan ikhlas, pasti berkah.

"Dinda kalau besar nanti, kejar cita-cita sampai dapat ya."

Dinda tak benar-benar paham apa yang dikatakan Boy. Gadis kecil itu asik memainkan kue di tangannya.

09 September 2011

Pacaran

Menurut ente bagusnya ngomongin apa dulu nih? Politik? Ah ogah, it's endless drama yang nggak kalah lebay dari sinetron favorit emak-emak. Jadi ngomongin politik itu meaningless? Worthless. Penting, tapi nggak di sini.

Let's go to the topic. What topic? Pacar. Pacar? Pacaran.

Sebelumnya maaf nih kalau yang punya blog sebelah juga sempet nyinggung topik ini. Paling enggak ada twittnya yang nangkring di Time Line beberapa waktu lalu, kira-kira tentang ini juga. Tapi soalan ini memang sudah lama ngendap di saya.

Dulu saya termasuk orang yang tidak betah berlama-lama single. Kalau menurut orang yang mengaku "anak gaul" sih namanya jomblo. Saya tidak betah jomblo. Dulu memang iya. Jadilah hunting pacar, berburu, gebet sana-sini, sampai orang nyangka saya multiple. Multiple? Ya, tapi biar apa orang bilang. Waktu itu saya masih abu-abu. Di utan? Itu monyet abu-abu, kampret!

Seperti kamu juga, saya pernah berseragam putih abu-abu. Itu lho yang di dada ada badge tulisannya OSIS. Osis sapi, osis ayam, osisnya Gonzales, osisnya Sm*sh, osisny Sinta & Jojo, osis... Itu SOSIS! Haha kok jadi banyak bercanda gini ya.

Singkat cerita, dulu saya memang kerap bongkar pasang personel. Biar ngetop kayak Anang. Lah, segala Anang dibawa-bawa. Maaf, maaf. Maksudnya, saya sering ganti pacar. Tiap putus hubungan, buru-buru cari pacar baru. Entah untuk apa.

Belakangan saya bertanya pada diri saya sendiri. Sebenarnya untuk apa semua itu? Seberapa urgen pacaran itu sampai saya rela ngubek sekolahan buat dapat pacar. Apakah hidup ini selalu melankolik. Apa tanpa pacar saya tidak bisa have fun. Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain yang membuat saya mencari dalil-dalil pembenaran yang dapat diterima. Ajaibnya semua ditolak. Bukan berarti pacaran itu sama sekali tidak benar, atau pacaran itu useless. Saya banyak belajar dari pacaran. Tapi ada tapinya.

Sekarang saya tanya, untuk apa pacaran itu? Beberapa orang pernah mengatakan pada saya bahwa pacaran untuk penjajakan. Jadi, apakah sebagai teman kita tidak boleh menjajaki? Saya yakin teman yang baik akan selalu mengizinkan kita untuk mengenalnya lebih. Tidak perlu menjadi pacar. Kalau dia menolak, artinya dia belum terlalu baik. Sekedar mengenal orang tua atau keluarga seharusnya sah-sah saja.

Sebagian teman menganggap sebelum memasuki hubungan yang lebih serius, kita harus pacaran. Saya menolak pendapat itu. Pernikahan tidak harus selalu diawali pacaran. Ada juga kan orang yang tidak pernah pacaran tapi punya suami/isteri. Dan mereka tidak harus melakukan cara islam untuk menikah tanpa pacaran. Dari sahabat saja bisa jadi suami/isteri kok. Tanpa pacaran? Tanpa pacaran.

Kualitas pernikahan tidak dapat diukur dari kualitas pacarannya. Kuantitas apalagi. Kalaupun memaksa mengukur, dari kualitas pertemanannya saja bisa. Tidak percaya? Hal apa yang tidak bisa dilakukan teman seperti apa yang dilakukan pacar? Teman bisa memberikan perhatian seperti yang diberikan pacar. Apa teman dilarang care? Teman juga boleh memanjakan teman seperti pacar. Teman bisa juga menemani jalan-jalan. Teman bisa menjadi tempat cerita. Teman boleh memberi masukan. Yang jelas, apa yang dilakukan pacar, semua bisa dilakukan teman. Kemudian apa? Chemistry? Teman juga boleh saja membangun chemistry dengan temannya. Tidak melulu pacar. Karena sebenarnya pacar itu juga teman.

Apa? Teman tidak berhak melarang-larang atau mengatur? Jadi pacar berhak? Mudah, berikan saja hak yang sama untuk teman kita. Kalau cuma untuk mengistimewakan teman kan gampang. Lagipula hak itu kan cuma karangan kita saja. Intinya larangan dan aturan itu untuk kebaikan kita. A friend can do it.

Hubungan tanpa status? HTS? Kan sudah jelas statusnya teman. HTS cuma istilah. Istilah itu juga tidak jelas asal-usulnya.

Sudahlah, semua dalil pembenaran buat pacaran itu klise. Bukan berarti saya menganggap pacaran itu salah. Saya hanya sedang menunggu seseorang memberikan alasan yang tepat. I've been waiting for.. Meskipun hampir bisa dipastikan itu akan selalu tidak tepat bagi saya. Gimme one good reason!

12 Juni 2011

Berkendara

Saya benci menjadi melankolik. Tapi semakin saya membenci semakin menyiksa pula ketika dia datang. Biarlah, kita tak dapat merasakan nikmatnya keceriaan kalau belum pernah merasakan sendu. Dari melankolik juga blog ini jadi penuh.

Menjalani hidup sudah seperti berkendara di jalan raya saja. Sometimes bertemu persimpangan semrawut tak ada rambu lalu lintas. Tak semua persimpangan seberengsek itu tentu saja. Ada juga-malah banyak- yang penuh dengan rambu. Beruntung kalau melewati jalan seperti ini. Ada peringatan lampu kuning supaya mengurangi kecepatan. Banyak kendaraan-kendaraan lain tak kalah bernafsu ngebut daripada kita. Mereka juga punya kepentingan. Apapun itu. Meski cuma berkepentingan pamer kenekatan.

Saat lampu merah kita wajib berhenti. Ibarat menulis karangan, kita harus segera membubuhkan tanda titik. Mau dilanjutkan dengan kalimat baru atau paragraf baru, itu urusan nanti. Yang penting berhenti dulu. Kalau kita termasuk orang pamer nekat, jangan heran kalau tiba-tiba diseruduk kendaraan-kendaraan lain dari samping kanan kiri. Failed lah sudah. Itu kalau beruntung, kalau tidak ya game over.

Yang serasa nikmat, bebas, dan menyenangkan adalah ketika nyala lampu itu hijau. Bagi orang yang grusa-grusu pasti kendaraannya dipacu sekencang dia bisa. Namun sebagian lagi lebih memilih tetap pelan. Tergantung selera dan pertimbangan.

Saya termasuk orang yang cukup pelan. Tapi kadang juga harus ngebut. Semua pengendara selalu punya alasan untuk pelan atau ngebut. Bukannya pelan untuk mengulur waktu, bukannya takut ini atau itu, tapi usia yang menjadikan saya harus penuh pertimbangan. Dulu saya juga pengebut jalanan. Wajarlah abu-abu. Tapi sekarang lain cerita. Bagaimana kalau tiba-tiba jalan di depan penuh lubang? Bagaimana kalau mendadak ada orang nyeberang? Bagaimana kalau begini? Bagaimana kalau begitu? Semua harus diukur.

Saat ini saya sedang berada di persimpangan. Nyala lampu lalu lintas di depan sedang hijau. Tujuan awal saya lurus ke depan. Tapi lihatlah jalan melintang ke kanan dan ke kiri yang sepertinya teramat bebas untuk dilalui. Entahlah, lampunya di mana-mana. Kalau mendadak banting setir, bahaya mengancam. Kendaraan-kendaraan di belakang siap menghantam. Mungkin saya harus tetap lurus. Nanti kalau waktu membawa saya ke jalan melintang itu, biar saya jalani.

Di depan sana mungkin ada jalan berlubang, berdebu, berair. Mungkin suatau saat nanti saya harus melalui jalan-jalan tikus. Sempit, ramai, padat, berisik. Sama saja seperti jalan protokol.

Atau nanti saya putuskan untuk melewati jalan tol. Berharap lebih nyaman dari jalan konvensional. Ah, itu nanti. Sekarang biar saya jalankan lurus dulu.

Besok kalau saya lihat kamu di pinggir jalan, kamu boleh menumpang. Barangkali tujuan kita sama. Takdir yang akan memperjelas siapa nanti yang berkendara bersama saya sampai mana. Bisa jadi kelak saya yang menumpang orang lain. Kamu juga harus mau memberi tumpangan kalau memang saya butuh tumpangan.

Biarlah waktu yang menegaskan. Sekarang saya harus berkendara dengan tujuan semula. Kita memang harus konsisten. Sudahlah, sudah. Saya harus jalan. Kendaraan di belakang mulai berisik memainkan gas dan menyalakkan klakson. Iya Pak, Bu, Dik, Bro, Gan, Ndes, Dab, Cuk, …, sabar!

09 Februari 2011

Puisi - Soe Hok Gie

Gie, legenda aktivis (mahasiswa) Indonesia yg namanya tetap akan disebut dalam forum kemahasiswaan selama kaum inteligensia masih membicarakan kebenaran dan mengenang sejarah pergerakannya. Selama hidupnya Gie aktif menulis di berbagai media massa. Tulisan-tulisannya yg tendensius dan kritis terhadap pemerintah membuat Gie sering menerima ancaman kaleng. Tapi Ia harus mengecewakan sang peneror karena kemanusiaannya mengalahkan rasa takut atas usaha pembungkaman terhadap dirinya. Gie baru benar-benar berhenti menulis ketika alam kembali memeluk jiwanya dalam ketiadaan, di puncak Mahameru. Tiga tahun usai menggugat Soekarno dan menumbangkan rezim orde lama. Alam seperti mengabulkan doanya,
"Seorang filsuf Yunani pernah berkata,
Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan,
yang kedua dilahirkan tapi mati muda,
dan yang tersial adalah umur tua.
Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."


16 Desember 1969 Gie harus meninggalkan dunia yg kotor tapi indah ini setelah Ia datang pada 17 Desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik. Tapi nafas pemberontaknya akan terus diwarisi mereka yg menentang ketidakadilan.

Umumnya orang mengenal Gie melalui catatan hariannya yg dibukukan oleh LP3ES dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983). Kemudian Ia lebih dikenal setelah Riri Riza mengangkat kisah hidupnya menjadi sebuah film berjudul Gie (2005). Atau beberapa lagi dari artikel dan buku-buku karyanya:
  1. Di Bawah Lentera Merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang 1917-1920
  2. Zaman Peralihan
  3. Orang-orang di Persimpangan
Hari ini buah pena Gie telah menjadi inspirasi banyak orang. Pemikiran-pemikirannya akan tetap hidup bersama hidupnya peradaban.

Selain menulis artikel yg bermuatan kritik sosial dan politik, Ia juga penulis puisi yg handal. Meskipun saya sendiri bingung tulisan Gie mana yg tidak puitis, berikut beberapa puisi Soe Hok Gie yg sangat menarik untuk kita simak.
Teks disesuaikan dengan EYD


Hidup
(5 Januari 1962)

Terasa pendeknya hidup memandang sejarah
Tapi terasa panjangnya karena derita
Maut, tempat penghentian terakhir
Nikmat datangnya dan selalu diberi salam


Kepada Pejuang-pejuang Lama
(1965)

Biarlah mereka yang ingin dapat mobil, mendapatnya
Biarlah mereka yang ingin dapat rumah, mengambilnya
Dan datanglah kau manusia-manusia
Yang dahulu menolak, karena takut ataupun ragu
Dan kita, para pejuang lama
Yang telah membawa kapal ini keluar dari badai
Yang berani menempuh gelombang
(padahal pelaut-pelaut lain takut)
(kau tentu masih ingat suara-suara di belakang..."mereka gila")

Hai, kawan-kawan pejuang lama
Angkat beban-beban tua, sandal-sandal kita, sepeda-sepeda kita
Buku-buku kita ataupun sisa-sisa makanan kita
Dan tinggalkan kenang-kenangan dan kejujuran kita
Mungkin kita ragu sebentar
ya, kita yang dahulu membina
Kapal tua ini
Di tengah gelombang,
ya kita betah dan cinta padanya

Tempat kita, petualang-petualang masa depan akan pemberontak-pemberontak rakyat
Di sana...
Di tengah rakyat, membina kapal-kapal baru untuk tempuh gelombang baru
Ayo, mari kita tinggalkan kapal ini

Biarlah mereka yang ingin pangkat menjabatnya
Biarlah mereka yang ingin mobil mendapatnya
Biarlah mereka yang ingin rumah mengambilnya

Ayo,
Laut masih luas
Dan bagi pemberontak-pemberontak
tak ada tempat di kapal ini


Sebuah Tanya
(1 April 1968)

Akhirnya semua akan tiba
Pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku

(kabut tipis pun turun pelan-pelan
Di lembah kasih, lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap kau
Dekaplah lebih mesra, lebih dekat

(lampu-lampu berkerlipan di Jakarta yang sepi
Kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
Kau dan aku berbicara
Tanpa kata, tanpa suara
Ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita)

Apakah kau masih akan berkata
Kudengar derap jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta

(hari pun menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi muram
Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
Dalam bahasa yang kita tidak mengerti
Seperti kabut pagi itu)

Manisku, aku akan jalan terus
Membawa kenang-kenangan dan harapan-harapan
Bersama hidup yang begitu biru


Pesan
(Sinar Harapan, 18 Agustus 1973)

Hari aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
Yang tanpa tentara
Mau berperang melawan diktator
Dan yang tanpa uang
Mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?


Tentang Kemerdekaan

Kita semua adalah orang yang berjalan dalam barisan yang tak pernah berakhir,
kebetulan kau baris di muka dan aku di tengah
dan adik-adikku di belakang
tapi satu tugas kita semua,
menanamkan benih-benih kejantanan yang telah kau rintis

...
Kita semua adalah alat dari arus sejarah yang besar
Kita adalah alat dari derap kemajuan semua;
Dan dalam berjuang kemerdekaan begitu mesra berdegup
Seperti juga perjalanan di sisi penjara

Kemerdekaan bukanlah soal orang-orang yang iseng dan pembosan
Kemerdekaan adalah keberanian untuk berjuang
Dalam derapnya, dalam desasnya, dalam raungnya
Kita adalah manusia merdeka
Dalam matinya
Kita semua adalah manusia terbebas


Mandalawangi - Pangrango

Senja ini,
Ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu
Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, di dalam sepimu
dan dalam dinginnya

Walaupun setiap orang berbicara
tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

Aku cinta padamu,
Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan
menyelimuti Mandalawangi
kau datang kembali
dan bicara padaku tentang kehampaan semua

"hidup soal keberanian,
menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah"

Dan antara ransel-ransel kosong
Dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu
Melampaui batas-batas jurangmu
Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup

*Puisi-puisi lain menyusul...


Kenapa tulisan Gie begitu mempesona? Simak resep darinya:
"Apa yang lebih puitis selain berbicara tentang kebenaran?"

30 Januari 2011

Halte

Aku berharap bus itu segera datang. Kakiku mulai linu berdiri di sini, entah sudah berapa lama. Langit barat tampak lebih mellow ketimbang beberapa jam tadi. Guratan-guratan kumal tapi teratur di sana menegaskan hari semakin tua.

Untungnya aku tidak sendiri. Beberapa orang berdiri di sampingku. Bayang-bayang mereka cukup membuatku teduh. Aku mencari kesempatan di sisi jalan lain. Halte ini berada di tengah jalan-jalan protokol. Dari sini terlihat sibuk sekali kehidupan jalanan.

Kami menuju Terminal A, dari sebuah SPBU di perbatasan kota. Setelah mendapat petunjuk dari seorang paruh baya di sana, kami segera mencari bus yg dimaksud. Yah, aku haus. Tidak mungkin kubiarkan kerongkonganku terus berontak. Sambil kuselesaikan soal pembayaran ojek yg mengantarku dari SPBU sampai halte ini, tumpahan kaleng ini ku amini mengguyur goa yg sedari tadi kering.

CELAKA! Sebuah tas yg berisi peta kota ini kutinggalkan di SPBU. Ojek tadi kupaksa mengoyak jalanan. Harus segera kuambil. Soal bus? Ah, nanti.

15 menit, aku sudah menenteng tas itu di halte. Mereka masih berdiri di sini. Pembicaraanku dengan tukang ojek tadi berlanjut. Bagaimanapun negosiasi tetap pilihan terbaik sebagai makhluk ekonomi. Tidak butuh waktu lama juga untuk memeras tarif ojek ini. Setelah itu, betapa terkejut ketika kubalikkan badan, mereka sudah tidak ada di sana. Orang lain dari rombongan mengatakan mereka sudah dapat bus menuju terminal A. Aku bertanya mengapa tidak memanggilku, banyak jawaban dari orang-orang di rombongan itu.

"Mengapa tidak mengkomunikasikan?" Tanyaku pada seorang lagi.
"Entahlah, sepertinya memang begitu watak orang-orang di kelompok *itu" Jawabnya sambil menepuk pundakku.

Ya sudahlah, tidak ada gunanya mempermasalahkan hal seperti ini. Toh aku bisa mencari bus lain. Meskipun harus menunggu sampai 3 hari, setidaknya terminal A masih buka. Oh, ada yg menemaniku menuju terminal A. Baiklah kami akan segera berangkat.

Satu hal paling kuingat dari kelompok yg meninggalkan kami tadi, ada tetanggaku. Mengapa dia pergi? Bukankah kita sudah biasa berbagi. Meskipun dia yg lebih banyak membagi padaku. Entahlah, apapun alasannya dia tetap kuanggap salah. Seharusnya dia mengerti mengapa aku tidak ada di sisi jalan bus yg menuju terminal A. Karena aku tidak sedang bersenang-senang atau bermain-main dengan apapun. Kalau dia meminta maaf, sudah pasti kumaafkan. Meskipun aku tahu itu adalah ke-absurd-an. Absurd? Ya, karena aku yakin dia pasti merasa benar. Biarlah, karena pembenaranku lebih benar dari kebenaran apapun yg bisa dia pahami.

Aku bukan pendendam, jadi akan tetap kubagikan dengannya apa yg bisa kubagikan. Tapi soal kepercayaan, biar kubagikan pada orang lain saja. Aku kecewa. Mungkin sisi kemanusiaan berhasil melumat dendam, tapi takkan ada yg bisa membunuh kekecewaan ini. Karena kekecewaan berhak hidup meski tidak berdampingan dengan dendam. Segalanya harus berubah. Orang lain dalam kelompok itu bukan siapa-siapa, jadi tidak usah dibicarakan.

Ini bukan tentang dendam, tapi manusia memang harus realistis.

23 Desember 2010

Resah Asasi Manusia

Resah itu kembali datang. Kadang aku resah menyaksikan pelanggaran kemanusiaan, kehidupan sosial & politik, ekonomi, dan lain-lain. Kali ini sang resah dibawa kasus klasik dan tertua yg pernah mengusik. Emosional, yg paling asasi, dan juga yg paling dalam.

Aku pernah muak dengan emosi ini. Bukan hanya karena terlalu banyak menyiksa, juga karenanya orang bisa sembarangan menyimpulkan yg mereka tidak benar-benar paham. Dan itu lebih menyiksa dibanding apapun dari emosi ini. Lebih dari sekedar senyum kecut yg pernah ada di wajahku. Yang mereka tidak akan pernah mengerti apa yg dikemas di dalamnya. Mudah saja mata awam menilaiku biru yg sebenarnya tampak abu-abu. Menyebalkan.

Memang semua salahku. Karenaku sendiri. Tapi adilkah anak manusia mengurung saudaranya di dalam sangkar yg jauh dari peradaban. Tidak bolehkah seorang residivis menjadi pahlawan. Setidaknya untuk diri sendiri. Apakah dunia hanya milik orang-orang yg dianggap suci dan menganggap dirinya suci. Padahal (mereka) penghuni black list tidak selamanya tersangka yg hakiki. Hanya kadang mereka gagal menunjukkan kebenaran, karena dipecundangi pembenaran. Hukum memang terlalu alot.

Dengan segala pembenaran yg telah menjadikanku residivis, tidak akan membuatku berhenti berjuang untuk menghapus tinta merah dari dalam rapor kehidupanku dan membuktikan kebenaran yg lebih mulia daripada yg mereka punya. Sabotase dan manipulasi tidak akan menjegalku berlari. Takkan ku biarkan. Karena aku tahu aku punya kesempatan.

Hingga hari ini pun aku masih mengejar kesempatan itu. Dengan lebih hati-hati tentunya. Akan kubuktikan bahwa aku orang yg teguh, prinsipil, berkomitmen, determinis, dan tidak sembarangan.

Aku tidak ingin dunia berubah agar mengubahku, tapi aku ingin berubah untuk mengubah dunia.