04 Juni 2017

Cair

Satu pihak merasa yang lain tak toleran, pihak lain merasa keyakinannya dipojokkan. Keduanya lalu saling mengutuk sambil menukil dalil untuk melegitimasi kebencian demi kebencian. Kita ini tak becus nian merawat kerukunan, bahkan via media sosial.

Sementara anak-anak kita--adik-adik kita--bermain ayunan bersama, membangun istana pasir beramai-ramai, saling berbagi bekal makanan, dan melakukan banyak hal lain spontan saja tanpa dibebani keruwetan orang dewasa: agama, pandangan politik, golongan, dan variasinya.

Kemudian kita, orang besar, dengan lancang tampil ke depan mengajarkan bagaimana berkehidupan sosial.

Jadi ingat lantunan parau John Mayer dalam Stop This Train, "I am only good at being young..."

Kita mungkin saja tak benar-benar berseberangan. Barangkali kita hanya berada di ruas jalan yang berbeda, sedangkan tujuan kita sama. Ada yang naik sepeda motor di lajur paling kiri, naik truk di tengah, naik sedan di paling kanan. Jalanan bisa jadi sangat sesak terutama menjelang lebaran begini. Orang beramai-ramai menunaikan ritual tahunan: mudik.

Bicara soal mudik. Di kampung halaman kini berbeda. Ketegangan dari dunia maya mudah terbawa ke tengah opor dan ketupat. Dari facebook, instagram, twitter, dan tentu saja grup whatsapp. Syukur kalau bisa menahan diri. Cilaka jika lepas kendali. Acara silaturahmi berubah menjadi drama FTV.

Datang senyum-senyum seperti perkenalan pertama, bercengkerama seolah bertemu besan baru, lalu mendadak saling sewot macam kalah rebutan remot tivi, blah-blah-blah.

Dengan begini para bujangan memang sejenak dilupakan, dijauhkan dari sergapan pertanyaan klasik, "Kapan nikah?" Tapi saya tak rela jika mengorbankan kerukunan demi melegakan hati mereka. Lebih baik basa-basi itu tetap ada di tengah opor dan ketupat ketimbang harus menyaksikan kebencian demi kebencian.

Jadi mohon maaf, bukannya tega merepotkan para bujangan untuk merangkai bunga kata menjawab pertanyaan rutin itu, tapi, seandainya ada cara lain yang mujarab membuat suasana jadi lebih cair. Seperti THR menjelang hari raya. Ada amin?

17 Maret 2017

Angkutan

Mengenai konflik yang terjadi di pelbagai kota, perihal keberadaan angkutan online yang ditentang penggawa angkutan konvensional.

Kita mafhum perubahan adalah keniscayaan. Ketika kereta zaman bergerak maju kaum puritan kerap tertinggal di belakang. Mereka yang tak mampu turut serta seringkali menggugat yang telah melaju jauh di depan.

Di Jakarta, pertama kali terjadi pertikaian yang melibatkan pemangku-kepentingan angkutan konvensional dan online. Disusul kemudian ketegangan di kota lain. Makassar, Bandung, Solo, Jogja, dan seterusnya. Saya yakin konflik ini laten.

Sebagian mencoba menasihati pemangku-kepentingan angkutan konvensional, terutama sopir, dengan dalil rezeki sudah diatur. Jadi tak perlu memprotes keberadaan angkutan online.

Lagipula angkutan online adalah jawaban dari tuntutan zaman. Menawarkan kemudahan, kenyamanan, keamanan, keterjangkauan, dan sebagainya dalam satu paket sekaligus.

Jika ingin dipilih pelanggan angkutan konvensional mestinya menyesuaikan diri.

Tapi barangkali kita lupa bahwa di belakang angkutan konvensional itu bisa jadi ada bayi yang harus minum susu, anak yang harus bersekolah, keluarga yang harus makan, dan setumpuk persoalan lainnya. Bahkan mungkin di bidang angkutan konvensional itulah keahilan mereka satu-satunya.

Mereka bukan tak mau memberikan kualitas prima pada angkutannya. Mereka hanya tak mampu. Dalam hal modal, pengetahuan, jaringan, keahlian, dan sebagainya.

Meskipun sangat menikmati keberadaan angkutan online, saya tidak setuju jika pemerintah mempertaruhkan hidup angkutan konvensional pada mekanisme pasar. Tak semua orang siap ada di dalam sana. Dan itulah kenapa ada negara. Pemerintah memiliki akses besar terhadap regulasi dan biaya.

Namun tak adil pula jika pemerintah mencekik angkutan online untuk melindungi angkutan konvensional. Pada akhirnya penyempitan ruang itu akan mematikan sebuah lapangan kerja yang pemerintah sendiri tak mampu sediakan.

Maka PR berat pemerintah kali ini adalah mengerek kualitas angkutan konvensional agar setara atau mendekati kualitas angkutan online. Melalui pembinaan, peningkatan kompetensi, pengawasan, pengaturan rute dan ketepatan waktu, bantuan biaya untuk peremajaan unit atau peningkatan fasilitas kendaraan, subsidi bahan bakar, atau apa saja yang memungkinkan.

Banyak hal yang dapat dilakukan tetapi bukan dengan memaksa biaya operasional pesaingnya meninggi, lalu membuat tarifnya menjadi tak "terjangkau" lagi.

Jika sudah mampu mandiri, terserah saja membiarkan mekanisme pasar yang bekerja tanpa intervensi. Tapi bukannya itu dekat sekali dengan anarki?

09 Maret 2017

Receh

Sebenarnya sudah lama saya berniat menarik diri dari pembicaraan tentang agama secara spesifik. Terutama di FB yang gaduh oleh komentar.


Tapi belakangan saya iseng main-main di platform yang didirikan Mark Zuckerberg itu. Semata-mata untuk menyalurkan keusilan saya, jujur saja. Dan kesan saya tentang FB tak berubah.


Kegaduhan bukan monopoli FB. Akhir-akhir ini Twitter juga riuh oleh buzzer (sebagian orang menerjemahkan itu "pendengung") politik. Yang menarik, ternyata semua yang ramai ini berkenaan dengan agama. Termasuk keisengan saya di FB pun.


Sekarang saya tahu apa yang harus saya lakukan untuk membuat keramaian. Apa? Kuncinya jangan sepi. (Hihi)


Saya ingin kembali menikmati internet dengan gayeng melalui hal-hal receh seperti joke jayus di atas. Bukan mengurusi bentuk bumi yang domain ilmu pengetahuan itu. Meski yang dibangun melalui teori konspirasi memang selalu nampak hebat. Saya khawatir ilmuwan sungguhan akan membuat kaos bertulis "science is dead" karena frustasi.


Ilmu pengetahuan tak berlawanan dengan lelucon, bukan itu poin saya. Bahkan di National Geographic Channel ada program Science of Stupid. Isinya video-video tentang insiden konyol yang dijelaskan secara ilmiah bagaimana kekonyolan itu dapat terjadi.


Di Indonesia ada program serupa bernama CCTV di Trans 7. Beti, beda tipis. Isinya didominasi oleh video insiden. Jika Science of Stupid memberikan penjelasan ilmiah, maka CCTV cukup mengomentari video-video itu. Persis seperti keahlian kita.


Sebagai netizen sebaiknya jangan lupa bahwa kita dibesarkan oleh receh demi receh konten. Kalaupun harus mengomentari, rasanya kita lebih cocok menjadi CCTV ketimbang Science of Stupid. Akan lebih asyik.


Maka tak berlebihan kiranya jika kita menimbang gerakan make-internet-receh-again. (After-Trump)

11 Februari 2017

Jakarta

Menjalani hubungan jarak jauh bukan perkara mudah. Tapi tak juga berarti mustahil.

Ibarat pasangan calon (paslon) pimpinan daerah yang belakangan ramai jadi pemberitaan, sejoli yang terpisah jarak itu mesti menimbang situasi, kondisi, toleransi, pandangan dan jangkauan. Jangan disingkat.

Kalau perlu para pelaku long distance relationship, LDR-anak sekarang bilang, merumuskan visi dan misi yang akuntabel supaya dapat mengatasi keterbatasan kontak dengan sangkil mangkus.

Ini saya entah habis mimpi apa jadi bicara ndakik begini. Mungkin terinspirasi kehandalan Mas Agus (AHY) mengolah kata.

Yang pertama mesti diatasi memang perihal kontak. Tak ada hubungan berhasil tanpa kontak yang baik. Kontak yang baik mula-mula dengan pengaturan intensitas sedemikian rupa. Sepeda motor saja tidak mau jalan tanpa adanya kontak yang pas.

Kuncinya adalah kontak. Di rumah saya lazim disebut begitu. Kalau mau mengendarai motor, yang dicari kontaknya. Kadang Engkong saya bilang kunci kontak. Dikontak dulu baru disetarter.

Percayalah, kata Engkong, semua akan indah pada waktunya.

Ngomong-ngomong, saya menulis ini saat dalam perjalanan ke Jakarta untuk menemui kekasih saya. Setelah semalam diadakan debat paslon Gubernur & Wakil Gubernur DKI Jakarta yang disiarkan di hampir seluruh saluran teve nasional.

Karena, percayalah, Engkong, semua akan Jakarta pada waktunya.

Belitung kurang indah apa, tapi Pak Ahok memilih Jakarta. Blitar kurang sejuk apa, tapi Pak Djarot lari ke Jakarta. Begitu juga dengan Mas Agus, Mpok Silvy, Mas Anies, Kak Sandi, semua bersaing untuk ikut mengurusi Jakarta.

Malah ormases (bentuk jamak dari ormas; baru ditetapkan tadi pagi oleh saya sendiri) dari berbagai wilayah di Indonesia juga rebutan mengurusi Jakarta.

Kenapa tak rebutan Papua?

Padahal kalau cuma mau mengurusi Jakarta tak usah repot sikut-sikutan di gelanggang politik. Jadi netizen saja cukup.

Sebagai gambaran saja, saya menghabiskan banyak waktu di Kalimantan Utara. Sebutlah ujung Indonesia. Seberang mata merupakan Malaysia. Jangan bayangkan berapa jarak terbentang memisahkan. Mumet. Maksud saya, lihat saja di Google Maps, kan lebih gampang.

Maka, wahai para pelaku LDR yang terpisah jarak "selemparan kancut doang", penderitaan sampean sekalian belum seberapa. Saya mesti mengarungi sungai, laut, dan udara untuk sekadar berjumpa dan mengevaluasi visi misi secara berkala.