01 November 2014

Pasif

Ini tentang rokok. You know, bisa sangat panjang kalau bicara tentang batang itu. Batang tembakau. Seperti hal pro-kontra lainnya yang juga bisa menghabiskan berjam-jam obrolan.

Tengoklah infotainment kita. Makin kontroversial makin lama tayang menghiasi layar televisi. Coba saja hitung sudah berapa kali Jupe memenuhi program tivi Indonesia akhir-akhir ini? Orang besar memang begitu. Namanya yang besar, jangan berpikiran lain. Saya sedang membicarakan keinginannya mencari donor sperma yang ternyata banyak ditentang.

Lho ini jadi panjang membicarakan Jupe. Gawat. Padahal setahu saya, panjang-memanjangkan itu spesialisasi Mak Erot. Bukan Jupe. Mungkin dia sudah terlanjur memenuhi otak lelaki dengan kebesarannya.

Kembali soal rokok. Tetapi ini akan pendek saja. Atau paling tidak, saya usahakan tidak terlalu panjang.

Begini. Saya bukan perokok, meski dulu pernah coba-coba ikut hisap sekali dua kali. Biar dibilang gaul, trendy, dan masa kini. Kalau akhirnya saya berhenti mencoba itu bukan karena dengan merokok saya tidak merasa gaul, trendy, dan masa kini. Lebih soal bakat. Saya tidak berbakat merokok, dan tidak perlu dilatih supaya mahir.

Sering kali teman-teman mengatakan, lebih baik menjadi perokok aktif daripada perokok pasif. Katanya, perokok pasif lebih berbahaya.

Pertama, sebenarnya saya tidak sepakat dengan istilah perokok pasif. Kenapa orang yang tidak merokok disebut perokok? Rasanya aneh kalau menyebut saksi perampokan dengan perampok pasif. Atau menyebut korban pencabulan dengan pencabul pasif?

Oke, memang beda kasus. Maksud saya begini, ... Nganu ... Ah sudahlah, sepakat sebut saja perokok pasif biar mudah. Go ahead.

Kedua, saya setuju kalau asap yang terhisap perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif. Karena asap yang terhisap perokok pasif itu bekas perokok aktif. Ibaratnya asap rokok sebelum dihisap itu (maaf) sampah, setelah keluar dari perokok aktif jadi makin sampah.

Katakanlah kadar sampah asap rokok sebelum dihisap perokok aktif itu 1. Kemudian setelah dihisap dan dikeluarkan perokok aktif kadar sampahnya menjadi 2. Angka 2 inilah yang dikatakan lebih berbahaya jika terhisap oleh perokok pasif.

Tetapi jika saya (dengan sangat terpaksa) menjadi perokok pasif (yaitu ada 2 angka sampah terhisap oleh saya) lalu saya merokok aktif, apakah kadar sampah yang masuk ke tubuh saya menjadi 1? Jelas tidak. Jawabannya 3!

Jadi lebih beresiko mana?

Singkatnya, dengan merokok aktif tidak serta merta menghilangkan resiko sebagai perokok pasif. Seseorang menjadi perokok pasif karena ada orang lain yang merokok di dekatnya. Kalau kemudian dia ikut merokok aktif... Well, paham yang saya maksud? Biasanya perokok aktif itu juga sekaligus perokok pasif.

Sungguh menyakitkan jika dikatakan menjadi perokok pasif lebih berbahaya. Sakitnya tuh di sini! Melogika mestinya secara utuh. Jangan setengah-setengah. Jatuhnya bisa jadi semacam kemalasan berpikir. Barangkali benar kata Mc Cleland, "Human being is a lazy organism."

Astaga, ternyata tidak cukup pendek. Ya sudah lah. Ini pasti gara-gara Jupe Sang Pemanjang Pasif. Eh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Warung Kopi Kothok