Tampilkan postingan dengan label Anggraeni Murdiastuti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anggraeni Murdiastuti. Tampilkan semua postingan

29 Desember 2018

Sinar

ALULA SINAR KINANTI. Panggil saja Sinar.

ALULA dari kata ULA (Bahasa Arab) artinya awal/permulaan, atau sebutlah pertama. Diawali "AL", dalam bahasa Inggris semacam "THE". Jadilah AL-ULA, jika diterjemahkan dalam Bahasa Inggris menjadi "THE BEGINNING", atau "THE FIRST" juga tidak melenceng terlalu jauh.

Kata ULA sama dengan AWAL, bedanya yang pertama isim muannats (perempuan) yang kedua isim mudzakar (laki-laki). Isim muannats pada ULA ditandai dengan alif maqshurah. Ini biar ahli nahwu-shorf saja yang bahas. Saya cuma sok tahu.

SINAR ya sinar. Gleam, ray, nur, dan lain-lain.

KINANTI (kinanthi) adalah satu dari sebelas tembang Macapat. Tembang kinanthi berwatak senang dan penuh kasih. Biasanya digunakan untuk menyampaikan tuntunan, nasihat, dan berisi piwulang.

Jadi, Alula Sinar Kinanti:
Anak pertama ini diharapkan membawa penerang yang menuntun dengan kasih.

01 September 2016

Anniversary

Birthday berarti hari kelahiran. Kita serap ke dalam bahasa pergaulan menjadi hari ulang tahun. Meski dalam bahasa Inggris ulang tahun lebih sepadan dengan anniversary ketimbang birthday.

Biarlah, terlanjur enak di lidah.

Bagi setiap orang yang berulang tahun, entah sebaiknya bergembira atau bersedih-atau ke duanya. Bolehlah bergembira sebab telah mendapat kesempatan menghirup udara lebih lama, menempa pengalaman lebih banyak, mengalami hidup lebih panjang, dan seterusnya-dan seterusnya. Tapi apa yang mesti dirayakan jika "hidup adalah penderitaan", seperti kata Buddha? Bukankah semakin lama hidup kian menderita?

Hari ini tanggal kelahiran saya. Tapi setelah membaca paragraf di atas saya harap tak ada yang minta traktiran. Cukup ucapkan selamat saja, tak apa-apa. Kado juga saya terima. Paling sedikit doakanlah kebaikan. Saya tidak memaksa. Tapi kalau bisa jangan berhenti di kamu, klik like, share, dan katakan amin.

Eh, maaf, maaf.

Kekasih saya adalah orang pertama yang mengucapkan selamat. Atau, dia ingin menjadi yang pertama. Beberapa jam sebelum tanggal 1 dia katakan, takut ketiduran kalau harus menunggu tengah malam. Maklum pelor, nempel molor. Walhasil dia curi start 3 jam.

Pasangan muda lainnya merayakan ulang tahun kekasihnya dengan kejutan tengah malam. Mengetuk pintu, kue, lilin, balon, nyanyian, bla-bla-bla. Kami tidak. Jarak "ibu kota - ujung Indonesia" ini bukan perkara seremeh temeh itu.

Lilin tengah malam? Huh, yang benar saja.

Orang pertama yang mengirim ucapan via WA hari ini adik saya, Pita (Dyah Puspita Ningrum). Yang pertama mengirim di dinding FB saya Momon (Roro Halif Nureviana). Yang pertama menjabat tangan dan mengucapkan langsung Irene. Disusul yang lainnya.

Tapi kita bukan kecap, maunya yang nomor satu. Tak menjadi yang paling awal tak jadi soal. Yang penting cek IG kita ya. Halah saya ini bicara apa.

Mungkin beginilah tingkah remaja yang menginjak 17 tahun. Ada amin, Saudara?

***

Catatan tambahan (edit):

Nama kekasih saya Anggraeni, biasa dipanggil Eni. Saya bikin catatan tambahan ini karena dia protes kenapa namanya tak tertulis di postingan di atas.

Padahal 'kan namanya sudah tertulis di hati saya ya. Halah.

Eni juga menjadi orang terakhir yang mengucapkan selamat dan doa pada saya, entah ucapannya yang ke berapa di hari itu. Hingga menjelang tengah malam, hingga hampir habis tanggal satu.

Ya, kita tak harus menjadi yang pertama. Kita bisa menjadi yang menemani hingga akhir. Terima kasih, Dik Eni!

05 Maret 2016

Kado

Entah ini cuma terjadi di saya atau pada orang lain juga. Tapi jujur saja, bukan perkara mudah memilih kado pertama untuk perempuan.

Kesulitan saya berangkat dari apa-apa yang ada di kepala. Mulai dari kebingungan apakah harus benda fungsional atau emosional, hal umum atau khusus (ini biasanya identik dengan yang "spesial" meski tak melulu begitu), materi atau non materi, bla-bla-bla banyak sekali.

Setelah dapat pilihan terbaik (sebelum diwujudkan), masih ada saja yang menjadi soal. Yaitu kekhawatiran tentang apa yang akan menjadi kado selanjutnya.

Maksud saya begini. Kalau saat ini saya beri dia kado terbaik, lalu di momen yang celebrate-able berikutnya mesti memberi kado apa lagi? Rasanya tak mungkin harus menurunkan kualitas dari yang terbaik menjadi sekedar baik.

Kualitas di atas bukan ihwal mutu benda, melainkan bobot pilihan berdasarkan konteks saat itu. Secara sederhana; nilainya, bukan harganya.

Belum selesai dengan semua berondongan itu, saya buru-buru disergap kecemasan baru. Mengenai beban yang ditimbulkan dari kado tadi. Apakah benda itu akan membebaninya untuk menemukan kado balasan yang mungkin saja sama sulitnya?

Padahal tidak ada maksud, boleh di-high-light, tidak ada maksud mengharapkan kado balasan. Tak ada laki-laki yang mengharapkan kado balasan.

Kurang lebih saya berada dalam satu barisan dengan makhluk Mars yang menganut tradisi lama. Di mana lelaki lebih suka memberikan kado yang baik, tetapi tak menginginkan kado balasan. Pesan ini terangkum dalam kisah Adam & Hawa dengan persembahan buah khuldi.

Laki-laki lebih suka diurusi dalam lingkup domestik. Apakah itu dengan si perempuan memasak nasi goreng untuknya, menyiapkan keperluan kerjanya, atau sekedar teh hangat di sore hari sambil berbincang tentang film yang akan tayang di bioskop Sabtu depan.

Percayalah, masih banyak lelaki yang menyukai itu ketimbang benda-benda pemberian. Soal memberi kado biar jadi domain kaum Adam meski harus berpikir setengah mati.

Tapi toh jika terdesak mentok tak punya ide, masih ada warisan pendahulu kita seperti bunga, coklat, boneka, dan lain sebagainya yang relevan sepanjang zaman.

Akhirnya, biarpun tak terlalu tepat sasaran, paling tidak tulisan ini cukup mewakili apa yang tak seluruhnya bisa saya uraikan.

Tak semua dapat diringkas menjadi kata-kata seberapapun panjangnya. Persis seperti perempuan yang merayakan ulang tahunnya hari ini, Anggraeni Murdiastuti.

Happy birthday, Eni, thanks for being you.