Tulisan ini adalah pesanan dari sahabat pena saya, Elizabeth Ellena Ekarahendy. Kok? Begini cerit
anya. Beberapa waktu lalu Ell (begitu saya memanggilnya) menulis cerpen berjudul “Dimensi dan Keengganannya” di writingsessionclub.blogspot.com. Cerpen itu berhasil menjadi salah satu dari lima kontender cerita Best of The Week. Ell meminta saya membacanya.
Dilakukan voting dari ke-5-nya, yg terpilih akan dimuat dalam Herve Magazine. Cerpen Ell menang sebelum saya membacanya dan ikut memberi vote. Karena saya baru sempat membaca sehari setelah voting ditutup. Tapi, karena sangat tertarik dengan cerpen, saya tidak bisa menahan diri untuk berkomentar. Awalnya saya sungkan, tapi akhirnya berpendapat juga. Sengaja tidak saya tulis di alamat pe-voting-nya, tidak juga di blog Ell, atau di twitter, atau yg lainnya. Saya pikir akan lebih hangat kalau saya lakukan di facebook. Tapi hasilnya cukup panjang juga. Sampai membuat Ell berkomentar,
“aduh panjangnya -__- harusnya dimuat jadi satu blog entry aja khusus saya”
Entah Cuma bercanda atau apa, tapi saran Ell saya kabulkan. Karena Ell tidak mendengar bisikan saya “itung-itung menuhin blog”
*meringis*mengerling*mengangkat-angkat alis*
anya. Beberapa waktu lalu Ell (begitu saya memanggilnya) menulis cerpen berjudul “Dimensi dan Keengganannya” di writingsessionclub.blogspot.com. Cerpen itu berhasil menjadi salah satu dari lima kontender cerita Best of The Week. Ell meminta saya membacanya.Dilakukan voting dari ke-5-nya, yg terpilih akan dimuat dalam Herve Magazine. Cerpen Ell menang sebelum saya membacanya dan ikut memberi vote. Karena saya baru sempat membaca sehari setelah voting ditutup. Tapi, karena sangat tertarik dengan cerpen, saya tidak bisa menahan diri untuk berkomentar. Awalnya saya sungkan, tapi akhirnya berpendapat juga. Sengaja tidak saya tulis di alamat pe-voting-nya, tidak juga di blog Ell, atau di twitter, atau yg lainnya. Saya pikir akan lebih hangat kalau saya lakukan di facebook. Tapi hasilnya cukup panjang juga. Sampai membuat Ell berkomentar,
“aduh panjangnya -__- harusnya dimuat jadi satu blog entry aja khusus saya”
Entah Cuma bercanda atau apa, tapi saran Ell saya kabulkan. Karena Ell tidak mendengar bisikan saya “itung-itung menuhin blog”
*meringis*mengerling*mengangkat-angkat alis*
Dengan capture saja, berikut:




Salah satu jawaban yg saya duga akan diberikan Ell adalah “ingin berbeda”. Dan benar saja, “hanya tidak ingin menjadi seperti yang lainnya saja”, begitu jawabnya.
Saya kutipkan tulisan M. Fauzil Adhim (penulis buku-buku best seller) dalam buku dunia kata, “Penulis pemula sering dihantui oleh keinginan menghasilkan tulisan menarik yang sangat unik, lain daripada yang lain. Kecenderungan ini berakibat pada dua hal. Di satu sisi, cerita yang kita tulis terlalu ganjil dan terkesan mengada-ada sehingga tidak layak baca. Di sisi lain, kita membutuhkan energi yang ekstra besar untuk menyelesaikan satu cerpen yang paling sederhana sekalipun.”
Saya tidak mengatakan cerpen Ell ganjil, mengada-ada, atau tidak layak baca. Saya juga tidak tahu apakah Ell membutuhkan energi yg ekstra untuk menyelesaikan cerpennya. Tidak pula saya berpendapat bahwa cerpen Ell itu sederhana. Hanya, dari kutipan di atas saya ingin kita belajar bahwa menulis unik itu sah-sah saja –bahkan dianjurkan, tapi berhati-hatilah.
Menurut teori psikologi kognitif, kalimat yg pendek lebih mudah dicerna. Butuh proses kognitif yg lebih sederhana. Hukum ini juga berlaku bagi pemilihan kata. Kata Frank Lawrence Lucas, “Adalah tindakan tidak terpuji memaksa pembaca memeras otaknya untuk memahami tulisan kita.” Meskipun saya yakin pembaca cerpen Ell adalah orang-orang yg intelektualitasnya tinggi, tapi kamu pasti tahu mengapa saya mengutipkan kalimat tersebut.
“Mereka senang memakai kalimat-kalimat sederhana, kosakata yang sederhana, dan kalaupun terpaksa menggunakan istilah yg kurang dikenal khalayak, mereka memberi penjelasan dengan cara yg sederhana dan enak. Sehingga, orang-orang yang tahu tidak merasa jemu dan yang tidak tahu merasa lapang”, begitu tulis M. Fauzil Adhim dalam “Hukum Best Seller”. Jadi, betapa berhati-hatinya penulis senior memilih kata dan memakai kalimat. Mereka berusaha membuat pembaca nyaman. Tidak terlalu banyak mengernyitkan kening.
Jadi apa kesimpulannya? Penulis memang harus idealis. Harus. Tapi idealisme harus mengenal toleransi. Bukan merusak idealisme kita agar dapat diterima, tapi menoleransi kecenderungan-kecenderungan orang lain sehingga idealisme kita diterima.
“Tapi saya ingin berbeda”
Ya, ya saya tahu. Saya juga begitu. Semua pemula ingin berbeda –bahkan semua penulis, tapi coba resapi apa esensi menulis itu. Apa tujuan kita menulis. Karena kita menulis untuk dibaca khalayak, kita harus punya visi yg lebih global. Perhitungkan apa efeknya. Karena kita menulis bukan untuk diary. Kali ini mungkin sedikit mengarah ke sastra. Karena sastra itu harus memasyarakat.
Pendidikan kesenian adalah pendidikan perasaan, dan masyarakat yg mengabaikan pendidikan kesenian berarti menyerahkan masyarakat pada emosi-emosi tak teratur. Seni yg buruk adalah perusak perasaan, melahirkan irrasionalisme yg seringkali mudah untuk jatuh menjadi korban kaumm propagandis. Begitulah kepercayaan klasik.
Jelas, menulis itu agar berbaur dalam masyarakat. Tugas penulis adalah bagaimana membaurkannya.
Kecuali kalau kita menulis esei. Goenawan Muhammad memang paling cocok menulis untuk Majalah Tempo. Bayangkan apa jadinya kalau esei Goenawan Muhammad dimuat di Suara Merdeka atau Jawa Pos.
Sekali lagi ini hanya teori-teori yg disampaikan oleh pembaca –yg kebetulan suka cerpen. Karena juga cukup senang menulis, saya sampaikan pula apa kecenderungan pemula yg menghambat. Kasus-kasus serupa juga ada pada saya. Tapi setelah belajar dari sana-sini mudah-mudahan bisa menjadi lebih baik. Tapi menjadi diri sendirilah yg terbaik.
Teori sastra tidak perlu? Bacalah teknik menulis dan setelah selesai lantas lupakanlah (Ellen Glasgow). Karena akan muncul begitu saja pada saat-saat tertentu ketika menulis.




Salah satu jawaban yg saya duga akan diberikan Ell adalah “ingin berbeda”. Dan benar saja, “hanya tidak ingin menjadi seperti yang lainnya saja”, begitu jawabnya.
Saya kutipkan tulisan M. Fauzil Adhim (penulis buku-buku best seller) dalam buku dunia kata, “Penulis pemula sering dihantui oleh keinginan menghasilkan tulisan menarik yang sangat unik, lain daripada yang lain. Kecenderungan ini berakibat pada dua hal. Di satu sisi, cerita yang kita tulis terlalu ganjil dan terkesan mengada-ada sehingga tidak layak baca. Di sisi lain, kita membutuhkan energi yang ekstra besar untuk menyelesaikan satu cerpen yang paling sederhana sekalipun.”
Saya tidak mengatakan cerpen Ell ganjil, mengada-ada, atau tidak layak baca. Saya juga tidak tahu apakah Ell membutuhkan energi yg ekstra untuk menyelesaikan cerpennya. Tidak pula saya berpendapat bahwa cerpen Ell itu sederhana. Hanya, dari kutipan di atas saya ingin kita belajar bahwa menulis unik itu sah-sah saja –bahkan dianjurkan, tapi berhati-hatilah.
Menurut teori psikologi kognitif, kalimat yg pendek lebih mudah dicerna. Butuh proses kognitif yg lebih sederhana. Hukum ini juga berlaku bagi pemilihan kata. Kata Frank Lawrence Lucas, “Adalah tindakan tidak terpuji memaksa pembaca memeras otaknya untuk memahami tulisan kita.” Meskipun saya yakin pembaca cerpen Ell adalah orang-orang yg intelektualitasnya tinggi, tapi kamu pasti tahu mengapa saya mengutipkan kalimat tersebut.
“Mereka senang memakai kalimat-kalimat sederhana, kosakata yang sederhana, dan kalaupun terpaksa menggunakan istilah yg kurang dikenal khalayak, mereka memberi penjelasan dengan cara yg sederhana dan enak. Sehingga, orang-orang yang tahu tidak merasa jemu dan yang tidak tahu merasa lapang”, begitu tulis M. Fauzil Adhim dalam “Hukum Best Seller”. Jadi, betapa berhati-hatinya penulis senior memilih kata dan memakai kalimat. Mereka berusaha membuat pembaca nyaman. Tidak terlalu banyak mengernyitkan kening.
Jadi apa kesimpulannya? Penulis memang harus idealis. Harus. Tapi idealisme harus mengenal toleransi. Bukan merusak idealisme kita agar dapat diterima, tapi menoleransi kecenderungan-kecenderungan orang lain sehingga idealisme kita diterima.
“Tapi saya ingin berbeda”
Ya, ya saya tahu. Saya juga begitu. Semua pemula ingin berbeda –bahkan semua penulis, tapi coba resapi apa esensi menulis itu. Apa tujuan kita menulis. Karena kita menulis untuk dibaca khalayak, kita harus punya visi yg lebih global. Perhitungkan apa efeknya. Karena kita menulis bukan untuk diary. Kali ini mungkin sedikit mengarah ke sastra. Karena sastra itu harus memasyarakat.
Pendidikan kesenian adalah pendidikan perasaan, dan masyarakat yg mengabaikan pendidikan kesenian berarti menyerahkan masyarakat pada emosi-emosi tak teratur. Seni yg buruk adalah perusak perasaan, melahirkan irrasionalisme yg seringkali mudah untuk jatuh menjadi korban kaumm propagandis. Begitulah kepercayaan klasik.
Jelas, menulis itu agar berbaur dalam masyarakat. Tugas penulis adalah bagaimana membaurkannya.
Kecuali kalau kita menulis esei. Goenawan Muhammad memang paling cocok menulis untuk Majalah Tempo. Bayangkan apa jadinya kalau esei Goenawan Muhammad dimuat di Suara Merdeka atau Jawa Pos.
Sekali lagi ini hanya teori-teori yg disampaikan oleh pembaca –yg kebetulan suka cerpen. Karena juga cukup senang menulis, saya sampaikan pula apa kecenderungan pemula yg menghambat. Kasus-kasus serupa juga ada pada saya. Tapi setelah belajar dari sana-sini mudah-mudahan bisa menjadi lebih baik. Tapi menjadi diri sendirilah yg terbaik.
Teori sastra tidak perlu? Bacalah teknik menulis dan setelah selesai lantas lupakanlah (Ellen Glasgow). Karena akan muncul begitu saja pada saat-saat tertentu ketika menulis.
NB: Tujuan saya melakukan ini sebenarnya Cuma satu. Supaya kamu tidak terjebak pada kesalahan berpikir Bandwagon, supaya kreativitasmu bertambah.
0 komentar:
Poskan Komentar
miturut panjenengan pripun?